Fikih  

Cara Membedakan Bisikan Allah, Hawa Nafsu, dan Setan

ILUSTRASI - Imam Al-Ghazali menjelaskan cara membedakan bisikan Allah, malaikat, hawa nafsu, dan setan dalam hati menurut kitab Minhajul 'Abidin berdasarkan syariat Islam. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Tidak setiap bisikan yang muncul di dalam hati berasal dari Allah SWT. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, bisikan hati dapat bersumber dari Allah SWT, malaikat, hawa nafsu, maupun setan.

Karena itu, seorang muslim perlu memahami cara membedakannya agar tidak mudah mengikuti dorongan yang menyesatkan.

Dalam kitab Minhajul ‘Abidin terjemahan M. Rofiq, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seluruh bisikan pada hakikatnya terjadi atas kehendak Allah SWT. Namun, bisikan tersebut memiliki empat bentuk yang berbeda sesuai penyebab dan pengaruhnya.

Pertama, al-khatir, yaitu bisikan yang dijadikan Allah SWT sebagai permulaan dalam hati seorang hamba. Kedua, bisikan yang mengikuti tabiat manusia atau hawa nafsu. Ketiga, bisikan yang datang bersama ajakan malaikat atau ilham. Keempat, bisikan yang muncul karena rayuan setan, yang dikenal sebagai waswasah.

“Walaupun pada hakikatnya bisikan-bisikan itu berasal dari Allah SWT, namun saat setan menebarkan ajakannya, maka ia pun menjadi penyebab lahirnya berbagai bisikan kotor tersebut,” jelas Imam Al-Ghazali.

Cara Membedakan Bisikan Allah, Nafsu, dan Setan

Imam Al-Ghazali menguraikan beberapa pedoman untuk mengenali sumber bisikan yang muncul dalam hati.

1. Perhatikan Isi Bisikan

Bisikan yang berasal dari Allah SWT dapat berupa kebaikan untuk memuliakan hamba atau keburukan sebagai bentuk ujian. Sementara itu, bisikan malaikat selalu mengajak kepada kebaikan.

Sebaliknya, bisikan setan dan hawa nafsu cenderung mengarah pada keburukan. Meski demikian, setan terkadang menggunakan tampilan kebaikan sebagai tipu daya untuk menyesatkan manusia.

2. Ukur dengan Syariat Islam

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hukum syariat menjadi tolok ukur penting dalam menilai sebuah bisikan.

Apabila isi bisikan sejalan dengan ketentuan syariat, maka bisikan tersebut termasuk kebaikan. Sebaliknya, jika bertentangan dengan syariat, mengarah pada perkara syubhat, atau menyimpang dari ajaran Islam, maka bisikan itu berasal dari keburukan.

3. Meneladani Ulama dan Orang Saleh

Jika masih ragu, seseorang dianjurkan mengikuti jejak para ulama dan orang-orang saleh.

Apabila dorongan hati bertentangan dengan teladan mereka dan justru menyerupai perilaku orang-orang sesat, maka bisikan tersebut patut diwaspadai.

4. Uji dengan Hawa Nafsu

Cara lain adalah menguji bisikan tersebut melalui kecenderungan hawa nafsu.

Jika hawa nafsu menolak suatu dorongan bukan karena takut kepada Allah SWT, melainkan karena tabiatnya, maka dorongan itu cenderung merupakan kebaikan.

Sebaliknya, apabila hawa nafsu menyukai suatu dorongan hanya karena memenuhi keinginan diri, bukan demi mencari rida Allah SWT, maka bisikan tersebut termasuk keburukan.

Cara Membedakan Bisikan Setan dan Hawa Nafsu

Imam Al-Ghazali juga menjelaskan perbedaan antara bisikan buruk yang berasal dari setan dan hawa nafsu.

Pertama, jika bisikan menimbulkan kebimbangan dan keraguan, maka besar kemungkinan berasal dari setan. Sebaliknya, jika menghadirkan keteguhan meski mengandung ujian, bisa jadi berasal dari hawa nafsu atau sebagai bentuk ujian dari Allah SWT.

Kedua, bisikan yang muncul setelah seseorang melakukan dosa dapat menjadi peringatan dari Allah SWT agar hamba menyadari kesalahannya dan kembali bertaubat.

Ketiga, bisikan yang membuat seseorang lalai berzikir dan melemahkan semangat ibadah merupakan ciri godaan setan. Adapun dorongan yang tidak mengurangi kedekatan kepada Allah SWT lebih dekat dengan pengaruh hawa nafsu.

Cara Membedakan Bisikan Kebaikan dari Allah dan Malaikat

Allah SWT dan malaikat sama-sama memberikan dorongan menuju kebaikan. Namun, Imam Al-Ghazali menjelaskan keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Bisikan yang memantapkan hati dan menghadirkan kebijaksanaan lebih dekat sebagai petunjuk dari Allah SWT. Sementara bisikan yang berupa nasihat atau dorongan awal menuju kebaikan umumnya berasal dari malaikat.

Selain itu, bisikan yang berkaitan dengan penguatan akidah dan amalan batin lebih dekat berasal dari Allah SWT. Adapun bisikan yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat dan amal lahiriah umumnya datang melalui perantara malaikat. (*)