Fikih  

Mengapa Tawaf Mengeliling Kabah Berlawanan Arah Jarum Jam?

Mengapa tawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam dan sebanyak tujuh putaran? Simak penjelasan sejarah, hadis, dan pandangan sains dalam Islam. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Tawaf merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Ibadah ini dilakukan dengan mengelilingi Kabah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad, dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri jemaah atau bergerak berlawanan arah jarum jam.

Bagi sebagian umat Islam, arah putaran tawaf sering menimbulkan pertanyaan. Mengapa jemaah harus mengelilingi Kabah ke arah kiri? Apakah terdapat alasan tertentu di balik tata cara tersebut?

Dalam ajaran Islam, tata cara tawaf memiliki dasar syariat yang kuat. Di sisi lain, sejumlah ulama dan penulis muslim juga mengaitkannya dengan fenomena yang terjadi di alam semesta.

Sejarah Tawaf Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umroh karya Ahmad Sarwat, Lc., M.A., dijelaskan bahwa tawaf adalah aktivitas mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang bertawaf.

Tradisi tawaf bukan hanya dikenal pada masa Rasulullah SAW. Dalam buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El Fikri disebutkan bahwa setelah Kabah selesai dibangun, Nabi Adam AS diperintahkan Allah SWT untuk melakukan tawaf sebanyak tujuh putaran.

Amalan tersebut juga dilakukan para malaikat. Jika manusia melakukan tawaf di Baitullah, para malaikat bertawaf mengelilingi Bayt al-Ma’mur di langit. Tradisi itu kemudian diwariskan kepada para nabi berikutnya.

Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir dalam Bidayah wa an-Nihayah, Rasulullah SAW menyebut bahwa Nabi Hud AS dan Nabi Saleh AS pernah berhaji ke Baitullah. Demikian pula Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang melakukan tawaf setelah menyelesaikan pembangunan Kabah.

Tawaf pada Masa Jahiliah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab juga mengenal tradisi tawaf. Namun praktiknya tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang kemudian diajarkan Rasulullah SAW.

Sebagian orang melakukan tawaf sambil bertepuk tangan dan bersiul. Bahkan ada yang melakukannya tanpa mengenakan pakaian.

Allah SWT menyinggung perilaku tersebut dalam Surah Al-Anfal ayat 35:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِندَ ٱلْبَيْتِ إِلَّا مُكَآءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

Artinya:

“Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS Al-Anfal: 35)

Mengapa Tawaf Dilakukan Tujuh Putaran?

Jumlah tujuh putaran dalam tawaf berasal dari tuntunan Rasulullah SAW dan bukan hasil pertimbangan logika manusia.

Dalam buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat: Petunjuk Nabi Muhammad SAW untuk Terkabulnya Semua Hajat karya M. Ghofur Khalil dijelaskan bahwa jemaah laki-laki dianjurkan melakukan raml atau berjalan cepat pada tiga putaran pertama, kemudian berjalan biasa pada empat putaran berikutnya.

Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA:

“Ibnu Umar RA masuk Makkah ketika waktu duha. Lalu beliau mendatangi Ka’bah dan menyentuh Hajar Aswad sambil mengucapkan, ‘Bismillah, wallahu akbar.’ Kemudian beliau lari-lari kecil tiga kali putaran, lalu berjalan pada empat putaran berikutnya. Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan hal ini.” (HR Ahmad, dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Karena itu, jumlah tujuh putaran merupakan bagian dari ibadah yang bersifat tauqifi, yakni berdasarkan ketentuan syariat yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Mengapa Tawaf Berlawanan Arah Jarum Jam?

Secara fikih, alasan utama tawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam adalah karena demikianlah tata cara yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Posisi Kabah harus berada di sebelah kiri jemaah selama melakukan tawaf. Mengubah arah putaran berarti tidak mengikuti tata cara yang telah ditetapkan dalam syariat.

Meski demikian, sejumlah penulis muslim melihat adanya keselarasan antara arah tawaf dengan pola gerakan berbagai benda di alam semesta.

Dalam buku Kabah Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid Asy-Syarqawi dan Muhammad Raja’i Ath-Thahlawi dijelaskan bahwa banyak sistem di alam bergerak dengan pola yang menyerupai arah tawaf.

Beberapa contoh yang sering disebut antara lain:

  • Elektron mengelilingi inti atom.
  • Bulan mengelilingi bumi.
  • Bumi mengorbit matahari.
  • Planet-planet bergerak mengitari pusat tata surya.
  • Tata surya mengelilingi pusat galaksi.
  • Galaksi bergerak dalam sistem gugusan galaksi.

Menurut penjelasan tersebut, pola gerakan berbagai objek itu tampak bergerak berlawanan arah jarum jam jika diamati dari sudut pandang tertentu.

Namun perlu dipahami bahwa penjelasan ilmiah tersebut bukanlah dasar hukum pelaksanaan tawaf. Dasar utamanya tetap mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Simbol Ketaatan dan Persatuan Umat

Tawaf bukan sekadar gerakan mengelilingi bangunan suci. Ibadah ini mengandung makna ketaatan kepada Allah SWT dan menjadi simbol bahwa seluruh aspek kehidupan seorang muslim seharusnya berpusat kepada-Nya.

Dalam pelaksanaannya, jutaan muslim dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang bergerak dalam arah yang sama mengelilingi Kabah. Pemandangan tersebut mencerminkan persatuan, kesetaraan, dan kepatuhan terhadap perintah Allah SWT.

Karena itu, alasan utama tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali dan berlawanan arah jarum jam adalah mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Adapun keselarasan yang dikaitkan dengan fenomena alam dipandang oleh sebagian kalangan sebagai hikmah yang semakin menambah kekaguman terhadap syariat Islam. (*)