SerambiMuslim.com – Kisah pertemuan Raden Ajeng (RA) Kartini dengan ulama Nusantara, KH Saleh Darat, menyimpan pelajaran penting tentang pertemuan nilai Islam dan budaya Jawa. Relasi guru dan murid ini bahkan disebut turut memengaruhi cara pandang Kartini terhadap agama dan kehidupan.
KH Saleh Darat dikenal sebagai pengajar tafsir Alquran di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Demak. Dalam sebuah pengajian di pendopo kabupaten, Kartini hadir bersama para perempuan priyayi yang mengikuti kajian dari balik tirai.
Saat itu, penjelasan sang kiai mengenai Surah Al-Fatihah menarik perhatian Kartini. Ia merasa untuk pertama kalinya memahami makna ayat-ayat Alquran yang selama ini hanya dibaca tanpa dimengerti.
Usai pengajian, Kartini meminta pamannya, Bupati Demak kala itu, untuk mempertemukannya dengan KH Saleh Darat. Ia menyampaikan harapannya agar Alquran dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Kartini mengungkapkan kegelisahannya, banyak umat Islam membaca Alquran, tetapi belum memahami isinya. Padahal, pemahaman tersebut penting sebagai pedoman hidup.
Permintaan itu menggugah hati KH Saleh Darat. Sepulang dari pertemuan tersebut, ia mulai menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Pegon. Dari upaya itu lahirlah karya tafsir berjudul Faidhur Rahman.
Kitab ini menjadi salah satu terjemahan Alquran awal dalam bahasa Jawa, meski tidak selesai hingga 30 juz karena sang penulis wafat lebih dahulu. Isinya mencakup Surah Al-Fatihah hingga Surah Ibrahim.
Pengaruh pemikiran KH Saleh Darat disebut ikut membentuk pandangan religius Kartini. Salah satu ungkapan terkenalnya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kerap dikaitkan dengan pemahamannya terhadap Surah Al-Baqarah ayat 257 tentang perpindahan dari kegelapan menuju cahaya.
Profil Singkat Kartini
RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara.
Kartini sempat mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), di mana ia belajar bahasa Belanda. Namun, pada usia 12 tahun, ia harus menjalani masa pingitan sesuai tradisi saat itu.
Selama di rumah, Kartini aktif belajar secara mandiri dan menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda, termasuk Rosa Abendanon. Melalui surat-surat tersebut, ia menuangkan gagasan tentang pendidikan, emansipasi perempuan, serta kondisi sosial masyarakat.
Tulisan-tulisan Kartini kemudian dihimpun oleh J.H. Abendanon dalam buku berbahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht. Karya ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Armin Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dalam perjalanan hidupnya, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Aryo Singgih Djojo Adiningrat. Dengan dukungan suaminya, ia mendirikan sekolah bagi perempuan sebagai bagian dari perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan. ***





