Fikih  

Mereka Berdoa di Kabah, Hasilnya Mengejutkan

Kisah Urwah bin Zubair, tabiin yang memilih ilmu daripada kekuasaan dan doanya dikabulkan Allah menjadi ulama besar. (Foto: Unplash/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Urwah bin Zubair dikenal sebagai ulama besar dari generasi tabiin. Sejak muda, ia telah menunjukkan kecerdasan dalam mempelajari ilmu agama.

Pada masa remajanya, Urwah bergaul dengan tokoh-tokoh penting. Di antaranya Abdullah bin Zubair, Mush’ab bin Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan.

Suatu waktu, keempatnya menunaikan ibadah haji bersama. Mereka menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk dan penuh ketenangan.

Setelah menyelesaikan haji, mereka duduk di sekitar Rukun Yamani. Dari sana, mereka menyaksikan jamaah beribadah di Masjidil Haram.

Percakapan pun dimulai. Abdullah bin Zubair mengungkapkan kenikmatan berzikir yang ia rasakan.

Ia kemudian mengajak sahabatnya berbagi harapan yang dipanjatkan saat berdoa.
“Setelah tawaf, aku berdoa agar menjadi penguasa Hijaz,” ujar Abdullah.

Mush’ab bin Zubair menyampaikan keinginannya. “Aku berharap dapat memimpin wilayah Irak tanpa gangguan,” katanya.

Giliran Abdul Malik bin Marwan mengungkapkan cita-citanya. “Aku ingin menjadi khalifah setelah Mu’awiyah,” ucapnya.

Berbeda dengan ketiganya, Urwah tidak langsung berbicara. Ia tampak fokus memperhatikan jamaah yang bertawaf.

Ketika ditanya, ia menyampaikan harapannya dengan tenang. “Aku ingin menjadi orang berilmu dan bermanfaat bagi umat,” kata Urwah.

Ia berharap ilmunya kelak menjadi rujukan dalam memahami agama. Selain itu, ia memohon kemudahan untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya.

Doa yang Menjadi Kenyataan

Seiring waktu, doa keempat sahabat tersebut perlahan terwujud. Setelah wafatnya Yazid bin Mu’awiyah, Abdullah bin Zubair memimpin Hijaz dan wilayah lain.

Namun, konflik politik tak terhindarkan. Ia akhirnya gugur di Makkah setelah menghadapi perlawanan lawan politiknya.

Mush’ab bin Zubair juga sempat menguasai Irak. Akan tetapi, ia tewas dalam pertempuran mempertahankan wilayahnya.

Sementara itu, Abdul Malik bin Marwan berhasil menjadi khalifah. Ia membawa stabilitas politik setelah melalui berbagai gejolak.

Berbeda dengan ketiganya, Urwah tetap menekuni ilmu. Ia konsisten menempuh jalan sebagai ulama sesuai cita-citanya.

Urwah belajar dari banyak sahabat Nabi. Di antaranya Aisyah binti Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Abbas.

Ia dikenal sebagai perawi hadis dan ahli fikih terkemuka. Namanya tercatat sebagai salah satu dari tujuh ahli fikih Madinah.

Keilmuannya menjadi rujukan masyarakat luas. Ia juga dipercaya menjadi penasihat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz.

Dalam berbagai kesempatan, Urwah dilibatkan dalam urusan keagamaan. Perannya menunjukkan kedalaman ilmu dan integritasnya sebagai ulama.

Hingga akhir hayat, Urwah dikenal sebagai sosok fakih. Ilmunya diamalkan dan memberi manfaat bagi banyak orang. ***