Bagaimana Cara Penulisan Alquran di Zaman Nabi SAW?

Museum Alquran di Makkah. (Foto: Hira District)

SerambiMuslim.com – Bagi umat Islam, Alquran merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup yang terjaga keasliannya sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk memperkenalkan sejarah panjang turunnya wahyu dan pelestarian Alquran, Arab Saudi menghadirkan Museum Alquran di Distrik Budaya Hira, Makkah.

Museum ini menawarkan pengalaman edukatif yang mengajak pengunjung memahami proses turunnya wahyu, pencatatan ayat-ayat Alquran oleh para sahabat, hingga penyusunannya menjadi satu mushaf. Berbagai koleksi bersejarah dipadukan dengan teknologi interaktif sehingga perjalanan sejarah Alquran dapat dipelajari secara lebih mendalam.

Dilansir dari Arab News, Rabu, 15 Juli 2026, museum menghadirkan beragam teknologi digital untuk menjelaskan bagaimana Alquran dijaga sejak masa Rasulullah SAW hingga kini.

Replika Media Penulisan Alquran Zaman Rasulullah

Salah satu daya tarik utama Museum Alquran adalah koleksi replika media yang digunakan para sahabat saat menuliskan wahyu.

Sebelum Alquran dihimpun menjadi satu mushaf, ayat-ayat ditulis pada berbagai bahan yang tersedia pada masa itu, seperti perkamen kulit, daun palem, kayu, batu, hingga tulang hewan, termasuk tulang belikat dan tulang rusuk.

Melalui koleksi tersebut, pengunjung dapat memahami bagaimana masyarakat Arab pada masa awal Islam berupaya menjaga setiap ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Setiap koleksi dilengkapi penjelasan ilmiah serta presentasi interaktif yang menjelaskan fungsi masing-masing media dan proses pencatatan wahyu.

Proses Penulisan hingga Penyusunan Mushaf

Mengutip Visit Saudi, Museum Alquran tidak hanya memamerkan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjelaskan tahapan penting perjalanan Alquran sejak wahyu pertama diturunkan.

Melalui ruang pameran modern, pengunjung diajak memahami proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, pencatatan oleh para sahabat, hingga penyusunan Alquran menjadi satu mushaf pada masa para khalifah.

Seluruh materi disajikan menggunakan teknologi digital, multimedia, dan konten ilmiah yang terdokumentasi sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga jemaah haji dan umrah.

Salah satu atraksi yang paling menarik adalah simulasi digital momen turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Dengan teknologi visual modern, pengunjung dapat memahami latar sejarah turunnya Surah Al-‘Alaq yang menjadi awal diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.

Menampilkan Manuskrip Alquran Bersejarah

Museum Alquran juga menyimpan koleksi manuskrip dari berbagai periode sejarah Islam.

Berbagai mushaf kuno tersebut memperlihatkan perkembangan seni penulisan Alquran, mulai dari ragam kaligrafi, teknik penyalinan, hingga ornamen yang menghiasi setiap halaman.

Koleksi itu menjadi bukti besarnya perhatian umat Islam dalam menjaga keaslian Alquran selama berabad-abad.

Selain manuskrip, museum menghadirkan paviliun budaya yang menjelaskan perkembangan ilmu-ilmu Alquran, sejarah penyebarannya, serta pengaruhnya terhadap peradaban dunia.

Bagian dari Distrik Budaya Hira

Museum Alquran merupakan salah satu destinasi utama di Distrik Budaya Hira yang berada di kaki Gunung Hira, Makkah.

Kawasan tersebut dikembangkan sebagai pusat wisata religi dan edukasi yang memperkenalkan sejarah Islam kepada masyarakat dunia. Lokasinya berada di dekat jalur utama penghubung Makkah dan Taif sehingga mudah dijangkau jemaah maupun wisatawan.

Distrik Budaya Hira berada di bawah pengawasan Komisi Kerajaan untuk Makkah Al-Mukarramah dan Tempat-Tempat Suci.

Selain Museum Alquran, kawasan ini juga memiliki pusat informasi pengunjung dan Galeri Wahyu yang mengisahkan perjalanan turunnya wahyu kepada para nabi hingga wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW.

Popularitas Distrik Budaya Hira terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Hira District pada 2025, kawasan ini telah menerima lebih dari 4 juta pengunjung dari 132 negara.

Tingginya jumlah pengunjung menunjukkan besarnya minat masyarakat dunia untuk mempelajari sejarah Islam melalui destinasi edukatif yang dikembangkan Arab Saudi.

Pengembangan Museum Alquran dan Distrik Budaya Hira merupakan bagian dari implementasi Visi Arab Saudi 2030 yang berfokus pada penguatan sektor budaya, pariwisata, serta pelestarian warisan Islam.

Melalui museum ini, Arab Saudi menghadirkan bukan hanya destinasi wisata religi, tetapi juga pusat pembelajaran yang mengajak pengunjung memahami sejarah turunnya Alquran, proses penulisannya, serta upaya para sahabat dan generasi setelahnya dalam menjaga keaslian kitab suci umat Islam. (*)