10 Peristiwa Penting Bulan Muharram dalam Sejarah Islam

10 peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram, mulai dari hijrah Nabi Muhammad SAW, puasa Asyura, hingga tragedi Karbala. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda awal tahun Hijriah, tetapi juga dikenal sebagai bulan yang menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Sebagian peristiwa memiliki landasan kuat dalam Alquran dan hadits, sementara sebagian lainnya banyak disebut dalam kitab-kitab sejarah Islam serta riwayat para ulama.

Berikut 10 peristiwa penting yang kerap dikaitkan dengan bulan Muharram.

1. Hijrah Nabi Muhammad SAW Menjadi Dasar Kalender Hijriah

Salah satu peristiwa terpenting yang berkaitan dengan Muharram adalah penetapan kalender Hijriah yang berlandaskan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

Dalam buku “Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional” karya Muh Rasywan Syarif disebutkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, para sahabat bermusyawarah untuk menentukan awal penanggalan Islam. Mereka sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal perhitungan tahun Hijriah.

Meski hijrah Rasulullah SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena menjadi awal dimulainya persiapan hijrah setelah musim haji.

2. Nabi Musa AS dan Bani Israil Diselamatkan dari Firaun

Peristiwa yang paling populer pada bulan Muharram adalah keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.

Dalam berbagai riwayat disebutkan Allah SWT membelah Laut Merah sehingga Nabi Musa AS dan pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat. Ketika Firaun dan pasukannya mengejar, laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka.

Peristiwa tersebut diyakini terjadi pada 10 Muharram atau Hari Asyura.

Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS.

Beliau bersabda:

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW kemudian berpuasa pada hari tersebut dan menganjurkan umat Islam untuk melaksanakannya.

3. Disyariatkannya Puasa Asyura

Tanggal 10 Muharram dikenal sebagai Hari Asyura yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.

Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: “Nabi SAW ditanya mengenai puasa Arafah. Beliau menjawab, ‘Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Beliau juga ditanya mengenai puasa Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.’” (HR Muslim).

4. Tobat Nabi Adam AS Diterima Allah SWT

Dalam sejumlah kitab sejarah Islam disebutkan bahwa Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS setelah beliau dan Hawa diturunkan ke bumi.

Hal tersebut ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 37:

فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 37).

5. Nabi Nuh AS Selamat dari Banjir Besar

Menurut sejumlah riwayat sejarah Islam, bahtera Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat setelah banjir besar yang menghancurkan kaumnya.

Dalam “Kisah Para Nabi” karya Imam Ibnu Katsir disebutkan bahwa Nabi Nuh AS dan para pengikutnya keluar dari kapal pada tanggal 10 Muharram setelah melewati masa pelayaran panjang akibat banjir besar.

6. Nabi Ibrahim AS Diselamatkan dari Api Raja Namrud

Kisah Nabi Ibrahim AS yang selamat dari kobaran api Raja Namrud menjadi salah satu mukjizat besar dalam sejarah kenabian.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 68-70:

(68) قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

(69) قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

(70) وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ

Artinya: “Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhanmu jika kamu benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.’ Mereka hendak mencelakakan Ibrahim, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi.”

Sebagian ulama mengaitkan peristiwa ini dengan bulan Muharram.

7. Nabi Yunus AS Keluar dari Perut Ikan

Kisah Nabi Yunus AS juga sering dikaitkan dengan Hari Asyura.

Setelah berada di dalam perut ikan, Allah SWT menerima doa dan tobat beliau sehingga dapat kembali dengan selamat.

Doa Nabi Yunus yang terkenal adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Anbiya: 87).

8. Nabi Yusuf AS Dibebaskan dari Penjara

Beberapa riwayat sejarah menyebut Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara pada bulan Muharram setelah kebenaran terungkap dan fitnah yang menimpanya terbantahkan.

Peristiwa tersebut menjadi awal kebangkitan Nabi Yusuf AS hingga akhirnya dipercaya memegang jabatan penting di Mesir.

9. Nabi Ayyub AS Disembuhkan dari Penyakit

Nabi Ayyub AS dikenal karena kesabarannya menghadapi ujian penyakit yang berkepanjangan.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan Allah SWT mengangkat penyakit beliau pada Hari Asyura.

Kisah tersebut diabadikan dalam Surah Shad ayat 41-42:

وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ. ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Artinya: “Dan ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.’ Allah berfirman, ‘Hentakkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.’” (QS Shad: 41-42).

10. Syahidnya Husain bin Ali RA di Karbala

Peristiwa penting lainnya pada bulan Muharram adalah wafatnya cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA.

Menurut keterangan Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan Nihayah”, peristiwa tersebut terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah di Karbala, wilayah yang kini berada di Irak.

Husain bin Ali RA gugur bersama sejumlah anggota keluarga dan pengikutnya dalam konflik politik yang terjadi pada masa itu.

Tragedi Karbala dikenang sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan keteguhan dalam mempertahankan prinsip kebenaran.

Ibnu Katsir menulis:

“Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, kemudian ia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepalanya kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 8, hlm. 204). (*)