SerambiMuslim.com – Rasulullah SAW tidak hanya menjadi teladan dalam urusan ibadah dan akhlak, tetapi juga dalam kebiasaan sehari-hari, termasuk cara berjalan, duduk, hingga bersandar. Setiap gerak dan perilaku beliau mencerminkan ketenangan, keseimbangan, serta kewibawaan yang membuat para sahabat kagum.
Para ulama menuturkan bahwa Rasulullah SAW memiliki gaya berjalan yang jauh dari sifat angkuh maupun malas. Sebaliknya, beliau berjalan dengan penuh ketenangan dan kewibawaan.
Dalam kitab Zadul Ma’ad yang ditulis Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan diterjemahkan Saefuddin Zuhri, disebutkan bahwa Rasulullah SAW berjalan dengan tenang tanpa menunjukkan kesombongan ataupun sikap lemah.
Ketika berjalan, Rasulullah SAW tampak sedikit merunduk seolah sedang menuruni jalan yang menurun. Menurut Ibnu Qayyim, gambaran tersebut menunjukkan bahwa cara berjalan Nabi SAW bukanlah seperti orang yang malas, bukan pula seperti orang yang rendah diri, melainkan gaya berjalan yang paling seimbang dan proporsional.
Penjelasan serupa juga terdapat dalam kitab “Asy-Syamail Al-Muhammadiyah” karya Imam At-Tirmidzi. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki langkah yang cepat sehingga para sahabat kerap kesulitan mengimbanginya.
“Tiada satu pun kulihat lebih indah daripada Rasulullah SAW, seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorang pun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah SAW, seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah SAW tidak memperdulikan.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dari Ibnu Luthai’fah dari Abi Yunus yang bersumber dari Abu Hurairah RA)
Selain saat berjalan, kewibawaan Rasulullah SAW juga tampak ketika beliau duduk. Qabilah binti Makhramah pernah menyaksikan Nabi SAW duduk dengan posisi qurfasha, yakni bertumpu pada pinggul dengan kedua paha dirapatkan ke perut tanpa memegang betis.
“Ia (Qabilah) melihat Rasulullah SAW di masjid sedang duduk qurfasha.” Qabilah berkata: “Manakala aku melihat Rasulullah SAW sedang duduk dengan khusyuk, maka aku pun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya.”
Dalam sejumlah kesempatan, Rasulullah SAW juga duduk di masjid dengan posisi qurfasha sambil bersandar (ihtiba) menggunakan kedua tangannya. Adapun ketika berbaring di masjid, beliau melakukannya dengan posisi telentang dan salah satu kaki ditumpangkan di atas kaki lainnya.
Seorang sahabat juga pernah melihat Rasulullah SAW duduk sambil bertelekan pada sebuah bantal yang berada di sebelah kirinya. Namun demikian, kebiasaan tersebut tidak dilakukan saat makan.
Rasulullah SAW bersabda, “Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan.” (Riwayat bersumber dari Abu Juhaifah RA)
Pada masa-masa terakhir kehidupannya ketika sedang sakit, Rasulullah SAW pernah keluar dari rumah dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Saat itu beliau mengenakan kain buatan Qatar (qithri) yang diselempangkan, kemudian tetap memimpin salat bersama para sahabat.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga pernah menyandarkan tangannya di atas bahu Fadlal bin Abbas RA ketika meminta agar balutan di kepalanya dikencangkan.
Fadlal menceritakan: “Aku masuk ke rumah Rasulullah SAW tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda: “Wahai Fadlal, apa kabarmu?” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah!” Rasulullah bersabda: “Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini!” Fadlal meneruskan ceritanya: “Maka kulakukan perintah Rasulullah SAW itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid.” Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadits perihal wafatnya Rasulullah SAW.
Keteladanan Rasulullah SAW dalam aktivitas sehari-hari menunjukkan bahwa Islam mengajarkan adab dalam setiap aspek kehidupan. Bahkan cara berjalan, duduk, dan bersandar pun menjadi cerminan akhlak mulia yang patut diteladani umat Islam. (*)







