Tiga Teori Masuknya Islam ke Nusantara

Sejarawan mengungkap tiga teori utama asal-usul masuknya Islam ke Nusantara, mulai dari India, Bengal, hingga Jazirah Arab. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Kalangan sejarawan menilai penyebaran Islam di Nusantara berlangsung pesat sejak abad ke-13 Masehi, ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di wilayah pesisir Sumatra dan Jawa.

Proses islamisasi di Nusantara diyakini berlangsung secara bertahap, namun mencapai puncaknya pada abad ke-13.

Pada fase awal, kalangan istana lebih dahulu memeluk Islam, yang kemudian diikuti oleh masyarakat luas. Selain itu, peran para pedagang dinilai sangat signifikan dalam menyebarkan ajaran tersebut di berbagai wilayah.

Sejumlah teori mengenai asal-usul masuknya Islam ke Nusantara telah dikemukakan para ahli. Cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra, dalam kajiannya pada 1994 merangkum beberapa hipotesis utama terkait tempat, waktu, dan aktor penyebaran Islam di kawasan ini.

Teori pertama menyebutkan bahwa Islam berasal dari pesisir barat Anak Benua India, khususnya wilayah Gujarat dan Malabar, sekitar abad ke-12. Pandangan ini didukung sejumlah orientalis Belanda, seperti Snouck Hurgronje dan Moquette.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Pijnappel yang menyebut para pembawa Islam merupakan komunitas Arab bermazhab Syafi’i yang telah lebih dulu bermigrasi ke India. Sementara itu, Morrison menilai Islam masuk melalui pedagang dari pantai timur India, khususnya Coromandel.

Teori kedua mengemukakan bahwa Islam berasal dari Bengal, wilayah pesisir yang menghubungkan Anak Benua India dan Semenanjung Indochina.

Pendukung utama pandangan ini adalah S.Q. Fathimi. Ia berpendapat bahwa tokoh-tokoh penting di Kerajaan Samudra Pasai memiliki garis keturunan Bengali.

Selain itu, Islam di Semenanjung Malaya diperkirakan telah hadir sejak abad ke-11 melalui jalur Kanton dan Phan Rang di Vietnam.

Sementara itu, teori ketiga menegaskan bahwa Islam datang langsung dari Jazirah Arab, khususnya wilayah Hadramaut. Pandangan ini didukung oleh tokoh seperti Hamka dan Syed Hussein Alatas.

Menurut Hamka, penyebaran Islam bahkan telah dimulai sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, atau abad pertama Hijriah.

Ia mengkritik teori Gujarat yang dinilai sebagai konstruksi orientalis untuk mengurangi pengaruh Arab dalam sejarah Islam di Nusantara.

Gagasan awal teori Arab sendiri telah dikemukakan oleh John Crawfurd pada awal abad ke-19. ***