Berita  

Israel Tutup Masjid Al-Aqsa hingga Hari Raya Idulfitri

Israel dilaporkan menutup Masjid Al-Aqsa hingga Idul Fitri. Warga Palestina mengecam kebijakan yang dinilai melanggar Status Quo dan hak ibadah. (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Otoritas pendudukan Israel dilaporkan memperpanjang penutupan Masjid Al-Aqsa bagi umat Muslim hingga Idulfitri 1447 H mendatang. Kebijakan ini disebut sebagai yang pertama dalam sejarah modern, khususnya terjadi pada bulan suci Ramadan.

Informasi tersebut disampaikan sumber yang memahami pengelolaan situs keagamaan di Yerusalem Timur kepada Middle East Eye. Menurut sumber itu, pihak Israel telah memberitahukan keputusan tersebut kepada Wakaf Islam dalam beberapa hari terakhir.

Penutupan total ini memicu kecaman dari warga Palestina. Mereka menilai kebijakan tersebut sebagai upaya memanfaatkan situasi konflik untuk memperkuat kontrol atas kompleks masjid.

Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada Perang Enam Hari 1967, ini menjadi pertama kalinya warga Palestina tidak dapat melaksanakan shalat Jumat di dalam Masjid Al-Aqsa selama Ramadan. Hingga kini, shalat Jumat maupun Tarawih masih dilarang.

Pasukan Israel dilaporkan dikerahkan dalam jumlah besar di kawasan Kota Tua untuk membatasi akses. Hanya sekitar 25 staf Wakaf yang diizinkan masuk dalam satu giliran kerja.

“Penutupan Kota Tua dengan cara seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mustafa Abu Sway, anggota Dewan Wakaf Islam di Yerusalem.

Ia menyoroti ketidakkonsistenan kebijakan, di mana aktivitas di luar kawasan Kota Tua tetap berjalan normal, sementara akses ke tempat ibadah dibatasi ketat.

Sumber lain menyebutkan adanya tekanan dari aparat Israel terhadap pihak Wakaf. Jika jumlah staf Muslim ditambah, maka pemukim Yahudi disebut akan diizinkan meningkatkan kunjungan ke area masjid.

Selain itu, muncul dugaan pemasangan kamera pengawas di dalam ruang shalat, termasuk di Dome of the Rock, guna memantau aktivitas di kawasan tersebut secara intensif.

Penutupan Masjid Al-Aqsa turut berdampak pada kondisi di Kota Tua Yerusalem. Kawasan yang biasanya ramai kini tampak lengang, dengan sebagian besar toko tutup.

Akses masuk hanya diberikan kepada penduduk setempat, dengan pemeriksaan ketat oleh aparat keamanan.

Pada malam Lailatul Qadar pekan lalu, aparat keamanan dilaporkan memblokade jalur menuju masjid. Sejumlah jamaah terpaksa melaksanakan salat di jalanan di tengah penjagaan ketat.

Kekhawatiran Perubahan Status

Direktur Urusan Internasional Wakaf Islam, Aouni Bazbaz, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kebijakan yang disebut sementara ini berpotensi menjadi permanen.

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pembatasan akses akan menjadi pola baru jika terus berlangsung,” ujarnya.

Selama ini, Masjid Al-Aqsa berada di bawah pengaturan kesepakatan internasional yang dikenal sebagai Status Quo, yang menetapkan situs tersebut sebagai tempat ibadah umat Islam di bawah pengelolaan Yordania.

Namun, sejak konflik terbaru pecah pada akhir Februari 2026, berbagai kebijakan dinilai telah mengikis kesepakatan tersebut, yang menurut hukum internasional melarang kekuatan pendudukan mengklaim kedaulatan atas wilayah yang didudukinya.

Situasi ini menambah ketegangan di kawasan Yerusalem dan memicu kekhawatiran luas akan perubahan permanen terhadap akses dan pengelolaan salah satu situs suci terpenting bagi umat Islam. ***