Berita  

Menag: NU Butuh Kepemimpinan Ala Rasulullah

Menag Nasaruddin Umar menegaskan NU membutuhkan kepemimpinan superteam meneladani Rasulullah SAW pada Harlah ke-100 NU. (Foto: YouTube NU Online)

SerambiMuslim.com – Menteri Agama RI (Menag) Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan NU membutuhkan model kepemimpinan meneladani Rasulullah SAW.

Penegasan itu disampaikan dalam Peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Nasaruddin menyebut kepemimpinan NU harus kuat secara moral, visioner, dan cakap dalam manajemen kolektif.

Menurutnya, tantangan zaman tidak lagi cukup dijawab dengan kekuatan kepemimpinan individual semata. NU, kata Menag, perlu menguatkan kepemimpinan berbasis superteam atau the power of we.

“Ini sama dengan kepemimpinan Rasulullah SAW yang menonjol sebagai leader dan manager,” ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan, perubahan sosial dan kompleksitas global menuntut pendekatan kepemimpinan yang lebih sistematis.

Berbagai guncangan teologis, kultural, politik, ekonomi, hingga sains memerlukan kerja kolektif yang solid.

“Ke depan kita membutuhkan kombinasi figur manajer dan figur leader,” ucap Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Dalam konteks NU, Nasaruddin menyebut organisasi ini sebagai pesantren besar dengan dinamika intelektual tinggi. Perbedaan pandangan di NU selalu dibingkai dalam akhlakul karimah dan tradisi pesantren. “NU itu seperti keluarga besar yang dinamis namun tetap sakinah,” katanya.

Ia menegaskan, tidak ada konsep orang luar dalam lingkungan NU. “Bahkan orang luar pun menjadi orang dalam di NU,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, NU akan terus menjadi kekuatan besar bagi bangsa Indonesia. “Insya Allah NU tetap menjadi wadah kekuatan besar bangsa ini,” katanya.

Nasaruddin juga mengaitkan kepemimpinan Rasulullah dengan prinsip moderasi NU. Ia menegaskan moderasi berarti menempatkan perbedaan dan persamaan secara proporsional.

“NU tidak menyamakan yang berbeda dan tidak membedakan yang sama,” ujar Nasaruddin.

Di akhir sambutan, ia berharap NU konsisten menjadi pilar moderasi dan perekat kebangsaan.

NU di abad kedua diharapkan meneladani kepemimpinan Rasulullah yang inklusif dan berorientasi kemaslahatan.

“Selamat atas perjalanan 100 tahun Nahdlatul Ulama,” ucapnya. ***