Berita  

Mengapa Pertanyaan ‘Kapan Nikah’ Kerap Muncul Saat Lebaran?

Foto: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Momen berkumpul bersama keluarga besar saat Lebaran kerap diwarnai pertanyaan sensitif seperti “kapan nikah?”, “kapan lulus?”, “sudah punya anak belum?”, hingga “kok belum kerja?”. Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut terasa mengganggu. Namun menurut pakar psikologi sosial, fenomena ini berkaitan erat dengan karakter budaya masyarakat Indonesia.

Pakar psikologi sosial dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Moelek, menjelaskan bahwa salah satu penyebab munculnya pertanyaan tersebut adalah karakter budaya Indonesia yang cenderung kolektivistik.

Dalam budaya kolektivistik, kehidupan individu dipandang sebagai bagian dari jejaring keluarga dan komunitas, sehingga berbagai keputusan personal sering dianggap relevan untuk dibicarakan bersama.

“Karena itu, keputusan tentang menikah, punya anak, pekerjaan, dan pendidikan sering dianggap wajar ditanyakan oleh kerabat. Batas antara ranah privat dan sosial menjadi lebih longgar dibandingkan masyarakat yang lebih individualistik,” kata Hamdi, Jumat, 13 Maret 2026.

Selain itu, masyarakat juga memiliki norma perkembangan yang kuat mengenai jalur hidup yang dianggap ideal. Secara sosial terdapat semacam “template” kehidupan yang diwariskan lintas generasi, seperti menyelesaikan pendidikan, bekerja, menikah, memiliki anak, hingga mencapai kemapanan.

Ketika seseorang belum berada pada tahap tersebut, sebagian orang merasa memiliki legitimasi sosial untuk mempertanyakannya. Dalam kajian psikologi sosial, kondisi ini berkaitan dengan konsep social norm dan age-graded expectations, yaitu harapan bahwa seseorang pada usia tertentu sudah menjalani peran tertentu dalam kehidupan.

Hamdi juga menilai pola komunikasi masyarakat turut memengaruhi munculnya pertanyaan sensitif saat Lebaran. Banyak orang Indonesia, menurut dia, dibesarkan dalam lingkungan yang tidak selalu terbiasa dengan percakapan yang bersifat emosional atau reflektif.

“Mereka mungkin tidak terbiasa bertanya seperti ‘bagaimana kondisi emosimu belakangan ini?’ atau ‘apa yang sedang kamu pikirkan tentang hidupmu?’. Akhirnya pertanyaan tentang status hidup menjadi jalan pintas untuk membuka percakapan, meskipun dampaknya bisa membuat orang tidak nyaman,” ujarnya.

Ia menilai pertanyaan tersebut sering kali sekadar bentuk basa-basi yang miskin sensitivitas, bukan selalu dilandasi niat buruk.

Di sisi lain, pertanyaan semacam itu juga dapat berfungsi sebagai bentuk kontrol sosial yang halus dalam keluarga besar. Percakapan tersebut kerap menjadi cara untuk mempertahankan keseragaman nilai tentang apa yang dianggap sebagai jalur hidup “normal”.

“Secara tidak langsung ada pesan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang mengikuti jalur umum yang sudah dianggap wajar di masyarakat,” kata Hamdi.

Perbedaan Generasi

Hamdi menambahkan, faktor perbedaan generasi juga berperan dalam fenomena ini. Generasi yang lebih tua umumnya memaknai keberhasilan hidup melalui indikator yang lebih konkret dan sosial, seperti menikah, memiliki anak, dan pekerjaan yang stabil.

Menurut dia, pengalaman hidup yang dibentuk oleh kondisi sosial ekonomi masa lalu membuat generasi tersebut melihat pencapaian itu sebagai kebutuhan utama, bukan sekadar pilihan personal.

“Kadang pertanyaan itu lahir dari kecemasan antargenerasi. Mereka ingin memastikan Anda ‘aman’, tetapi bahasa yang digunakan terasa menghakimi,” ujarnya.

Selain itu, budaya perbandingan sosial juga masih cukup kuat di masyarakat. Acara keluarga sering menjadi ruang untuk saling memperbarui informasi mengenai posisi sosial masing-masing anggota keluarga.

“Dalam teori social comparison, orang menilai diri dan orang lain dengan membandingkan pencapaian yang terlihat. Karena itu topik seperti pernikahan, pekerjaan, dan pendidikan sering menjadi bahan percakapan,” kata Hamdi.

Dampak Psikologis

Meski sering dianggap biasa, pertanyaan semacam itu dapat memicu tekanan psikologis, terutama bagi individu yang sedang berada dalam kondisi emosional rentan.

“Kalau seseorang memang sedang rentan, dihujani pertanyaan sensitif saat Lebaran bisa memperkuat gejala cemas, sedih, merasa tidak berharga, bahkan muncul rasa putus asa,” kata Hamdi.

Namun ia menegaskan kondisi tersebut tidak otomatis menyebabkan gangguan mental klinis. Meski demikian, tekanan sosial yang muncul tetap dapat memperberat beban psikologis seseorang.

“Intinya, orang bisa merasa tidak aman secara emosional, merasa dinilai bukan dipahami, dan seolah gagal memenuhi ekspektasi sosial,” ujarnya.

Hamdi juga menekankan bahwa reaksi tidak nyaman terhadap pertanyaan tersebut bukan sekadar sikap terlalu sensitif.

“Reaksi terluka itu wajar, karena manusia secara alami sangat peka terhadap penilaian sosial, apalagi jika datang dari keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman,” kata dia.

Cara Menyikapi

Untuk menyiasati situasi tersebut, Hamdi menyarankan agar orang yang menerima pertanyaan tetap merespons secara diplomatis, terutama jika pertanyaan hanya muncul sekali pada awal pertemuan.

Misalnya dengan menjawab ringan seperti, “Doakan saja ya Tante atau Om, semoga segera.” Setelah itu, percakapan dapat dialihkan ke topik lain.

Alternatif lain adalah menghindari situasi secara halus, seperti membantu di dapur, berbincang dengan tamu lain, atau meminta izin sejenak.

“Yang penting adalah menjaga suasana tetap baik tanpa harus merasa tertekan dengan pertanyaan yang muncul,” kata Hamdi. ***