SerambiMuslim.com – Perpustakaan Masjid Agung Omari, salah satu pusat budaya dan ilmu pengetahuan tertua di Gaza, mengalami kerusakan parah setelah serangan udara Israel sejak Oktober 2023.
Sebagian besar wilayah kota tua Gaza hancur, termasuk situs keagamaan dan budaya yang bersejarah.
Masjid Agung Omari kini terlihat sebagian besar runtuh, sementara perpustakaannya dipenuhi puing dan debu.
“Saya terkejut dan tercengang ketika melihat luasnya kerusakan di perpustakaan,” kata Haneen Al-Amsi, pimpinan Yayasan Sukarelawan Eyes on Heritage, kepada AFP dikutip, Rabu, 25 Februari 2026.
“Pemandangan kehancuran ini mendorong kami meluncurkan inisiatif restorasi,” sambungnya.
Menurut Amsi, bagian barat perpustakaan terbakar saat masjid dihantam, menyebabkan kerusakan yang nyaris tak dapat diperbaiki.
“Perpustakaan diperkirakan berisi sekitar 20.000 buku, tetapi saat ini kami hanya memiliki kurang dari 3.000 hingga 4.000 buku yang tersisa,” ujarnya.
Para relawan kini berusaha meneliti fragmen manuskrip yang hangus dan serpihan kertas yang menguning untuk memulihkan koleksi tersebut.
“Perpustakaan Masjid Agung Omari adalah yang terbesar ketiga di Palestina, setelah perpustakaan Masjid Al-Aqsa dan Ahmed Pasha al-Jazzar,” kata Amsi.
“Ini adalah perpustakaan bersejarah yang menyimpan manuskrip asli serta koleksi buku tentang yurisprudensi, kedokteran, hukum Islam, sastra, dan berbagai bidang lainnya,” jelasnya menambahkan.
Gaza, dengan sejarah ribuan tahun, merupakan gudang artefak arkeologi dari peradaban Kanaan, Mesir, Persia, dan Yunani. Namun, lebih dari dua tahun konflik telah menghancurkan banyak situs warisan.
Pada Januari 2026, UNESCO memverifikasi kerusakan pada 150 situs di Gaza sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023. Kerusakan tersebut mencakup 14 situs keagamaan dan 115 bangunan bersejarah atau bernilai seni.
Di antara puing-puing perpustakaan, seorang wanita terlihat menyeka debu dari buku tua menggunakan kuas, sementara relawan lain membolak-balik tumpukan buku dengan masker dan sarung tangan.
“Kondisi buku-buku langka dan bersejarah sangat menyedihkan karena dibiarkan selama lebih dari 700 hingga 800 hari,” kata Amsi, menyoroti kerusakan yang diakibatkan residu mesiu.
Komisi independen PBB menyatakan pada Juni 2025 bahwa serangan Israel terhadap sekolah, situs keagamaan, dan budaya di Gaza merupakan kejahatan perang.
“Israel telah menghancurkan sistem pendidikan Gaza dan lebih dari setengah situs keagamaan dan budaya di Jalur Gaza,” kata Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki dalam laporannya.
Bagi Amsi, pemulihan buku-buku ini penting untuk melestarikan catatan sejarah. “Buku-buku ini merekam sejarah kota dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting,” ujarnya. ***






