Berita  

Petuah Bijak Tiga Ulama Besar tentang Iman dan Kehidupan

Foto; iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Sejarah Islam tidak hanya mencatat perjalanan hidup tokoh-tokoh besar, tetapi juga merekam warisan nasihat dan petuah bijak yang relevan lintas zaman.

Kumpulan pesan moral itulah yang dirangkum oleh Shalih Ahmad asy-Syami dalam karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tenangkan Pikiran dan Hatimu Setiap Saat dengan Petuah-petuah Bijak.

Pada jilid pertama, buku tersebut menghadirkan mutiara nasihat dari tiga ulama besar, yakni Syekh Hasan al-Bashri, Imam al-Ghazali, dan Syekh Abdul Qadir Jailani. Ketiganya dikenal tidak hanya karena keluasan ilmu, tetapi juga kedalaman spiritual dan kepedulian sosial.

Tokoh pertama yang disorot adalah Syekh Hasan al-Bashri, ulama terkemuka asal Basrah, Irak. Dalam berbagai petuahnya, Hasan al-Bashri menekankan pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW serta membiasakan muhasabah atau introspeksi diri.

Ia mengatakan, “Seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia memiliki penasihat dari dirinya sendiri dan menjadikan muhasabah sebagai perhatiannya.”

Pesan tersebut mengajak setiap Muslim untuk terus mengevaluasi perkataan dan perbuatannya. Dengan perenungan yang mendalam, seseorang akan lebih bijak dalam bersikap, termasuk mempertimbangkan dampak dari setiap ucapan dan tindakan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Namun demikian, Hasan al-Bashri juga mengingatkan agar perenungan tidak berhenti pada angan-angan semata. Menurutnya, kebaikan hanya akan bernilai jika diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ia menegaskan, “Iman bukan sekadar hiasan dan bukan pula angan-angan, tetapi keyakinan dalam hati yang dibuktikan dengan amal perbuatan.”

Dalam beramal, keikhlasan menjadi kunci utama. Hasan al-Bashri bahkan memasukkan ketulusan sebagai bagian penting dari definisi Islam.

Baginya, hakikat Islam tercermin ketika seseorang tetap sama antara keadaan sendiri maupun di tengah keramaian, hatinya pasrah kepada Allah, serta kehadirannya tidak menimbulkan rasa amanah yang tercederai bagi orang lain.

Tokoh kedua yang diulas adalah Imam al-Ghazali, ulama besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam.

Salah satu fase penting dalam hidupnya adalah ketika ia meninggalkan jabatan prestisius sebagai pimpinan Universitas Nizhamiyah untuk menempuh jalan tasawuf.

Dari perjalanan spiritual itulah lahir berbagai pandangan mendalam, salah satunya mengenai konsep zuhud.

Menurut al-Ghazali, zuhud bukan berarti meninggalkan hal-hal yang diharamkan, melainkan melepaskan keterikatan pada perkara mubah yang berpotensi menuruti hawa nafsu.

Zuhud, jelasnya, adalah sikap meninggalkan dunia karena menyadari kerendahannya dibandingkan kemuliaan akhirat.

Definisi ini menunjukkan bahwa al-Ghazali tidak memandang sufi sebagai sosok yang mengasingkan diri dari masyarakat. Seorang ahli tasawuf justru dapat hidup berdampingan dengan masyarakat dan membimbing mereka dalam urusan spiritual.

Dalam konteks sosial, al-Ghazali membagi manusia ke dalam tiga golongan. Pertama, manusia yang diibaratkan seperti makanan, selalu dibutuhkan. Kedua, manusia yang seperti obat, dibutuhkan pada waktu tertentu. Ketiga, manusia yang seperti penyakit, tidak dibutuhkan, meski terkadang hadir sebagai ujian bagi orang lain. Golongan terakhir ini, menurut al-Ghazali, sebaiknya dijauhi.

Tokoh ketiga adalah Syekh Abdul Qadir Jailani, ulama yang dikenal dengan gelar Sulthan al-Awliya atau pemimpin para wali. Ia menekankan pentingnya kesadaran akan peran sosial seorang Mukmin.

Menurutnya, peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan urusan dunia, tetapi juga bernilai akhirat. Seorang Mukmin, tegasnya, senantiasa meluruskan niat dalam setiap aktivitasnya dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Syekh Abdul Qadir Jailani menggambarkan sosok Mukmin yang membangun masjid, jembatan, sekolah, serta berbagai sarana pendidikan. Semua itu dilakukan bukan semata untuk kepentingan duniawi, melainkan sebagai bekal dan investasi kebaikan untuk kehidupan akhirat. ***