SerambiMuslim.com – Kegiatan investasi sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Islam. Praktik ini telah dikenal sejak masa Nabi Muhammad SAW.
Selain sebagai pemimpin spiritual dan teladan bagi umat Muslim, Rasulullah juga dikenal sebagai sosok yang berhasil dalam dunia perdagangan dan pengelolaan usaha.
Lalu, bagaimana strategi investasi yang dijalankan Nabi Muhammad?
Mengacu pada buku The Rasulullah Way of Business, Rasulullah membangun fondasi bisnis dari modal utama berupa kepercayaan. Sifat jujur dan amanah membuat beliau dipercaya oleh banyak pihak untuk mengelola modal usaha.
Setelah menjalankan usaha dengan dana dari para pemodal, Rasulullah menerapkan sistem pembagian keuntungan. Pola kerja sama ini memungkinkan keuntungan usaha dibagi secara adil antara pengelola dan investor.
Selain berdagang, Nabi Muhammad juga mengembangkan sumber pendapatan lain yang bersifat jangka panjang atau passive income. Salah satunya melalui usaha peternakan.
Keahlian yang telah dimiliki sejak kecil ini terus dikembangkan hingga beliau dewasa dengan memelihara puluhan ekor unta.
Selain unta, Rasulullah juga memiliki beberapa jenis hewan ternak lainnya seperti kuda, keledai, sapi, dan domba.
Tidak hanya berfokus pada peternakan, Nabi Muhammad juga menanamkan investasi pada sektor tanah dan properti.
Menurut laporan dari Musaffa, sebagian lahan disewakan kepada masyarakat Yahudi dengan sistem kerja sama bagi hasil.
Contohnya, kebun kurma dan lahan di wilayah Khaybar yang dikelola oleh masyarakat setempat. Mereka diperbolehkan menggarap lahan tersebut dengan kewajiban membagi hasil panen sesuai kesepakatan.
Konsep kerja sama ini kemudian dikenal dalam ekonomi Islam sebagai prinsip bagi hasil atau Mudharabah.
Namun, ada satu prinsip penting yang tidak terpisahkan dari aktivitas investasi Rasulullah, yaitu sedekah.
Dalam ajaran Islam, sebagian harta yang dimiliki seseorang juga merupakan hak orang lain yang membutuhkan.
Nabi Muhammad dikenal tidak menimbun kekayaan. Beliau kerap menyalurkan hartanya dalam bentuk sedekah, baik berupa uang, pakaian, maupun makanan kepada orang yang membutuhkan.
Karena itu, bagi umat Muslim yang ingin meneladani strategi investasi Rasulullah, beberapa sektor seperti properti, lahan, dan peternakan dapat menjadi pilihan.
Di sisi lain, nilai berbagi melalui sedekah tetap menjadi prinsip utama dalam mengelola kekayaan. ***







