Arsjad Rasjid: Indonesia Bisa Pimpin Ekonomi Halal Global

Arsjad Rasjid menilai Indonesia memiliki modal besar menjadi pemimpin ekonomi halal global. Kuncinya adalah kolaborasi, investasi, dan penguatan ekosistem syariah. (Foto: Instagram Arsjad Rasjid)

SerambiMuslim.com – Pengusaha nasional asal Palembang, Arsjad Rasjid, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang kuat agar Indonesia mampu menjadi pemimpin industri halal dunia.

Pesan tersebut disampaikan Arsjad saat memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam paparannya, Chairman B57+ Asia Pacific Chapter itu menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat ekonomi halal global. Namun, cita-cita tersebut tidak dapat diwujudkan tanpa kerja sama berbagai pihak.

“Membangun ekosistem halal itu seperti membangun rumah. Tidak bisa sendirian. Butuh gotong royong. Dan kita punya modal yang tidak sedikit untuk memimpin,” ujar Arsjad.

Ia mengutip data State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026 yang mencatat nilai ekonomi halal global mencapai USD2,6 triliun pada 2024. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi USD3,56 triliun pada 2029.

Meski memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dengan lebih dari 240 juta penduduk, posisi Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) masih berada di peringkat keempat, di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

“Malaysia ada di peringkat pertama, kita di peringkat keempat,” katanya.

Menurut Arsjad, posisi strategis Indonesia sebagai penghubung kawasan Asia Pasifik dan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seharusnya menjadi keunggulan untuk memperkuat daya saing ekonomi syariah nasional.

“Secara geografis, kita adalah jembatan antara Asia Pasifik dengan negara-negara OKI. Masa kita kalah dengan Malaysia?” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arsjad juga memperkenalkan peran B57+ Asia Pacific Chapter yang dipimpinnya. Organisasi ini merupakan chapter pertama dari B57+ Group, sebuah inisiatif strategis yang digagas Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) dan diluncurkan di Istanbul, Turki, pada November 2025.

B57+ dibentuk untuk menghubungkan pasar di 57 negara anggota OKI serta negara-negara mitra lainnya. Fokus utamanya mencakup peningkatan perdagangan antarnegara, penguatan investasi dalam ekosistem halal global, serta penyusunan rekomendasi kebijakan yang mendukung daya saing produk halal di pasar internasional.

“Yang membedakan B57+ dari inisiatif multilateral lainnya adalah ukurannya, yaitu perdagangan nyata, investasi nyata, dan dampak nyata. Bukan sekadar deklarasi,” tegas Arsjad.

Ia juga menekankan bahwa pengembangan ekonomi halal harus bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW melalui Piagam Madinah.

Karena itu, Arsjad mendorong keterlibatan semua pihak, termasuk pelaku usaha non-Muslim, dalam memajukan industri halal Indonesia.

Sementara itu, Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof Dr Muhammad Adil MA, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Arsjad Rasjid sebagai narasumber dalam kuliah umum tersebut.

Ia mengatakan, sejak bertransformasi menjadi universitas, UIN Raden Fatah Palembang terus menunjukkan perkembangan yang signifikan, baik dalam bidang akademik maupun capaian prestasi civitas akademika.

“Pasca menjadi universitas, perkembangan UIN Raden Fatah cukup pesat. Berbagai kajian keilmuan terus berkembang dan prestasi civitas akademika juga semakin meningkat,” ujar Muhammad Adil. (*)