Lima Peristiwa Bersejarah yang Terjadi pada 17 Ramadan

Foto: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Tanggal 17 Ramadan dalam kalender Hijriah memiliki makna penting dalam sejarah Islam. Pada hari ini tercatat sejumlah peristiwa besar, mulai dari kemenangan umat Islam dalam Perang Badar hingga wafatnya khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Momentum tersebut memperlihatkan bagaimana satu tanggal dalam sejarah dapat menghadirkan dua sisi sekaligus: kemenangan besar yang menguatkan umat serta peristiwa duka yang meninggalkan luka mendalam.

1. Perang Badar, Hari Al-Furqan

Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah dikenal sebagai Hari Al-Furqan, yaitu hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Pertempuran ini bukan sekadar upaya menghadang kafilah dagang Quraisy, tetapi juga bagian dari strategi untuk menekan kekuatan ekonomi Makkah setelah harta kaum Muhajirin disita oleh kaum Quraisy.

Dalam peristiwa ini, strategi militer juga memainkan peran penting. Nabi Muhammad SAW menerima saran dari sahabatnya, Al-Habbab bin Al-Mundhir, untuk menguasai sumber air di sekitar medan Badar. Sementara itu, Sa’d bin Mu’adz mengusulkan pembangunan kemah komando bagi Nabi.

Pertempuran tersebut berakhir dengan kemenangan umat Islam, serta gugurnya sejumlah pemimpin Quraisy.

2. Wafatnya Ruqayyah binti Nabi

Pada hari yang sama dengan kemenangan di Badar, umat Islam juga menerima kabar duka. Putri Nabi, Ruqayyah binti Muhammad, wafat di Madinah.

Ruqayyah dikenal sebagai salah satu perempuan yang dua kali melakukan hijrah. Ia pertama kali hijrah ke Habasyah dan kemudian ke Madinah.

Suaminya, Utsman bin Affan, tidak ikut serta dalam Perang Badar karena mendapat perintah langsung dari Nabi untuk merawat istrinya yang sedang sakit. Ruqayyah kemudian dimakamkan di pemakaman Jannatul Baqi sebelum Nabi kembali dari medan perang.

3. Gugurnya Ali bin Abi Thalib

Peristiwa penting lain yang juga dikaitkan dengan 17 Ramadhan adalah wafatnya khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, pada tahun 40 Hijriah atau 661 Masehi.

Menurut sejumlah riwayat, Ali ditikam oleh seorang anggota kelompok Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam saat hendak melaksanakan salat subuh di masjid di Kufah.

Dalam karya sejarah Al-Bidayah wa an-Nihayah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, disebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tengah situasi politik yang penuh ketegangan setelah munculnya konflik antara kubu Ali dan pihak yang mendukung Muawiyah bin Abu Sufyan.

Ali wafat dua hari setelah serangan tersebut dan dimakamkan di wilayah yang kini dikenal sebagai Najaf, dekat dengan Kufah. Peristiwa ini juga sering dipandang sebagai akhir dari masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.

4. Perubahan Kekuasaan di Yerusalem

Pada 17 Ramadan tahun 490 Hijriah (1097 M), terjadi perubahan kekuasaan di Yerusalem yang saat itu menjadi pusat persaingan politik antara Kekhalifahan Fatimiyah di Kairo dan Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad.

Sebelumnya kota tersebut berada di bawah kendali penguasa yang berafiliasi dengan Dinasti Seljuk melalui Bani Artuqid. Namun kemudian pasukan Fatimiyah di bawah pimpinan Al-Afdal Shahanshah berhasil mengambil alih kota itu.

Meski tampak sebagai kemenangan politik bagi Fatimiyah, sejumlah sejarawan menilai peristiwa tersebut justru memperdalam perpecahan politik di dunia Islam. Kondisi ini melemahkan pertahanan kawasan dan membuka jalan bagi datangnya pasukan Perang Salib yang merebut Yerusalem pada 1099.

5. Turunnya Baybars al-Jashankir dari Kekuasaan

Peristiwa lain yang tercatat terjadi pada 17 Ramadan adalah berakhirnya pemerintahan Sultan Mamluk Baybars al-Jashankir pada tahun 709 Hijriah atau 1310 M.

Baybars yang sebelumnya menjabat sebagai pejabat istana dengan tugas mencicipi makanan sultan, jabatan yang dikenal sebagai al-Jashankir, naik ke tampuk kekuasaan ketika Al-Nasir Muhammad bin Qalawun meninggalkan takhta dan pergi ke Al-Karak.

Namun pemerintahannya hanya bertahan sekitar satu setengah tahun. Masa kekuasaannya bertepatan dengan musim kemarau panjang dan menurunnya debit air Sungai Nil, yang memicu krisis pangan dan ketidakpuasan rakyat.

Akibatnya, Baybars kehilangan dukungan politik dan akhirnya turun dari kekuasaan. ***