SerambiMuslim.com – Kekalahan telak kaum Quraisy dalam Perang Badar tidak serta-merta meredam ambisi mereka. Sejumlah tokoh Quraisy, bersama kelompok Yahudi dan kaum munafik, disebut mulai merancang langkah balasan terhadap Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin.
Dalam catatan Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, disebutkan bahwa Abu Sufyan ibn Harb berupaya memulihkan wibawa kaumnya setelah kekalahan tersebut. Ia bahkan bernazar tidak akan membasahi rambutnya sebelum berhasil menyerang Nabi Muhammad SAW.
Dengan membawa sekitar 200 orang, Abu Sofyan bergerak menuju wilayah dekat Madinah hingga mencapai sebuah jalur pegunungan bernama Naib, yang berjarak sekitar 12 mil (19 kilometer) dari kota tersebut.
Namun, ia tidak berani memasuki Madinah secara terbuka. Dalam kondisi malam gelap, ia memilih menyusup secara diam-diam dan mendatangi rumah Huyay ibn Akhtab, salah satu pemimpin Yahudi Bani Nadhir. Permintaan untuk masuk rumah ditolak karena kekhawatiran akan risiko yang ditimbulkan.
Abu Sofyan kemudian beralih ke rumah Sallam ibn Mishkam. Di sana, ia meminta agar kedatangannya dirahasiakan. Setelah bermalam dan dijamu, ia kembali bergabung dengan pasukannya menjelang pagi.
Aksi berikutnya dilakukan dengan mengirim sejumlah pasukan menuju kawasan Al-Uraidh, di pinggiran Madinah. Mereka merusak kebun dengan menebangi pohon kurma dan membakar pagar-pagar. Dalam serangan tersebut, dua orang dari kalangan Anshar dilaporkan tewas.
Setelah melakukan sabotase singkat itu, pasukan Quraisy segera mundur menuju Makkah. Informasi mengenai serangan tersebut sampai kepada Nabi Muhammad SAW, yang kemudian bergerak cepat memimpin pengejaran.
Namun, pasukan Abu Sofyan memilih melarikan diri dengan meninggalkan sebagian logistik, termasuk tepung gandum (sawiq), untuk meringankan beban perjalanan. Mereka berhasil lolos dari kejaran.
Rasulullah SAW mengejar hingga wilayah Qarqaratul Kadr sebelum akhirnya kembali ke Madinah. Sementara itu, kaum Muslimin mengamankan bahan makanan yang ditinggalkan musuh.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Perang As-Sawiq, merujuk pada tepung gandum yang ditinggalkan pasukan Quraisy. Insiden tersebut terjadi pada bulan Dzulhijjah, sekitar dua bulan setelah Perang Badar.
Selama pengejaran berlangsung, urusan pemerintahan di Madinah diserahkan kepada Abu Lubabah ibn Abd al-Mundhir. ***





