SerambiMuslim.com – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengungkap tiga ayat Al-Qur’an sebagai pijakan NU memasuki abad kedua.
Ketiga ayat tersebut menjadi landasan dalam menyusun gerakan dan program NU. Fokus utamanya mencakup penguatan kemandirian ekonomi dan pemulihan ekologi.
KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2026-2031. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat penutupan Muktamar ke-35 NU.
Penutupan Muktamar ke-35 berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
“Dalam mengawali atau persiapan kita untuk melangkah di abad kedua Nahdlatul Ulama ini, ada tiga ayat yang merupakan dasar pijakan kita untuk mengembangkan, terutama di bidang-bidang ekonomi yang saat ini memang mayoritas masyarakat Indonesia tergolong minal fuqara’ wal masakin (kaum fakir dan miskin),” ujarnya.
Menurut Kiai Miftach, tiga ayat tersebut menjadi landasan besar NU dalam menjalankan berbagai program pada abad kedua. Gerakan NU akan diarahkan untuk memperkuat ekonomi umat sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan.
Al Baqarah Ayat 30
Ayat pertama yang disebut Kiai Miftach adalah Surah Al Baqarah ayat 30. Ayat tersebut menjelaskan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pengelola bumi.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Wa iż qāla rabbuka lil-malāikati innī jā'ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj'alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a’lamu mā lā ta’lamụn
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Kiai Miftach menjelaskan bahwa khalifah berarti orang yang mengurus bumi. Tugas tersebut juga mencakup pembuatan aturan agar kehidupan masyarakat berjalan tertib.
“Khalifah itu artinya yang mengurus bumi, yang membuat peraturan dan tata tertib agar kehidupan menjadi teratur. Tidak bleh ada orang kaya yang menganiaya atau menzalimi si miskin, begitu pula sebalikna. Dengan tanzhim (pengaturan) yang teratur, terjadilah masyarakat yang tertib,” urai Kiai Miftach.
Hud Ayat 61 dan Pemakmuran Bumi
Ayat kedua yang menjadi pijakan adalah Surah Hud ayat 61. Ayat tersebut menegaskan tugas manusia untuk memakmurkan bumi.
۞ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَٰلِحًا ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Wa ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, huwa ansya`akum minal-arḍi wasta’marakum fīhā fastagfirụhu ṡumma tụbū ilaīh, inna rabbī qarībum mujīb
Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
Kiai Miftach menyoroti frasa wasta’marakum fiiha dalam ayat tersebut. Menurutnya, frasa itu mengandung perintah untuk memakmurkan bumi.
Pemakmuran bumi, kata dia, membutuhkan pengerahan akal, pengetahuan, dan tindakan nyata. Upaya tersebut termasuk menjaga serta memulihkan ekologi.
“Termasuk menghijaukan kembali sawah ladang dan gunung-gunung yang gundul, bahkan menyiapkan persediaan pangan adalah bagian dari tugas pemakmuran bumi. Ini sunnatullah. Rakyat hanya bisa merasakan kesejahteraan jika ada upaya sekuat tenaga mengerahkan pikiran untuk menyejahterakan umat,” urainya.
Az Zariyat Ayat 56
Ayat ketiga yang disebut Kiai Miftach adalah Surah Az Zariyat ayat 56. Ayat tersebut menjelaskan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya’budụn
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Kiai Miftach kemudian menjelaskan makna frasa wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun. Menurutnya, huruf lam dalam ayat tersebut bermakna lam ‘aqibah atau menunjukkan akibat.
Dengan pemaknaan tersebut, seluruh aktivitas manusia dalam menjalankan tugas kekhalifahan harus bermuara pada nilai ibadah. Hal itu juga berlaku dalam upaya membangun ekonomi dan menyejahterakan masyarakat.
“Jangan sampai kita melangkah dan membangun dengan megah tanpa ada nilai ibadah. Kekhalifahan mengurus bumi yang luas dan menyejahterakan rakyat tanpa pandang bulu, semuanya harus bernilai ibadah,” katanya.
Kiai Miftach menegaskan ketiga ayat tersebut menjadi pijakan program NU pada awal abad kedua. Fokus tersebut diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan ekonomi umat.
“Tiga ayat ini menjadi dasar program awal abad kedua ini agar NU betul-betul sejahtera ekonominya. Sebab untuk bidang pendidikan dan kesehatan, alhamdulilah sudah ada pakarnya seperti Prof Muhammad Nuh,” tandas Rais Aam. (*)







