Nabi Muhammad SAW Berdagang ke Syam Saat Berusia 12 Tahun

ILUSTRASI - Kisah Nabi Muhammad SAW berdagang ke Syam saat berusia 12 tahun dan bertemu pendeta Buhaira yang melihat tanda-tanda kenabian. (Foto: iStockphoto)

SerambiMuslim.com – Nabi Muhammad SAW telah menghadapi beratnya kehidupan sejak usia dini. Setelah kakeknya wafat, beliau diasuh sang paman, Abu Thalib.

Pada usia sekitar 12 tahun, Rasulullah SAW ikut Abu Thalib berdagang ke Syam. Perjalanan tersebut menjadi salah satu kisah penting dalam kehidupan beliau.

Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW tiba di Bushra dan bertemu seorang pendeta bernama Buhaira. Pendeta tersebut melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW Diasuh Abu Thalib

Mengutip kitab “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Rasulullah SAW mulai diasuh Abu Thalib setelah Abdul Muthalib wafat. Saat itu, Rasulullah SAW berusia delapan tahun dan telah kehilangan kedua orang tuanya.

Sebelum meninggal, Abdul Muthalib berpesan kepada Abu Thalib agar melanjutkan pengasuhan cucunya.

Abu Thalib kemudian merawat Rasulullah SAW dengan penuh kasih sayang. Ia memperlakukan keponakannya tersebut seperti anak sendiri.

Rasulullah SAW Berdagang ke Syam

Menurut buku “Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1” karya Prof. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Rasulullah SAW ikut Abu Thalib berdagang ke Syam.

Perjalanan tersebut berlangsung ketika Rasulullah SAW berusia sekitar 12 tahun. Rombongan kemudian tiba di kawasan Bushra.

Di tempat itu, Rasulullah SAW bertemu seorang pendeta yang dikenal dengan nama Buhaira. Pendeta tersebut biasanya tidak keluar dan tidak memperhatikan kafilah yang melintas. Namun, kali ini ia mempersilakan rombongan Rasulullah SAW menjadi tamu.

Buhaira kemudian melihat tanda-tanda kenabian yang disebut dalam kitab-kitab terdahulu. Ia menggandeng tangan Rasulullah SAW sembari berkata:

“Ini adalah pemimpin semesta alam. Ini adalah utusan Tuhan semesta alam. Allah telah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta.”

Abu Thalib kemudian mempertanyakan pernyataan pendeta tersebut. Buhaira pun menjelaskan tanda-tanda yang dilihatnya.

“Tatkala kalian tiba di Aqabah, tidak ada satu pun pepohonan dan bebatuan kecuali mereka sujud kepadanya. Mereka tidak akan sujud kecuali pada seorang nabi. sesungguhnya aku mengetahui nabi terakhir dari tulang bahunya yang seperti buah apel.”

Buhaira juga melihat Rasulullah SAW ketika sedang menggembala untanya. Ia kemudian meminta rombongan untuk menemui Muhammad SAW. “Pergi dan temuilah dia. Kalian akan melihat dia dipayungi oleh awan.”

Rombongan kemudian menghampiri Rasulullah SAW. Karena cuaca sangat panas, mereka memilih berteduh di bawah bayangan pohon.

Ketika Rasulullah SAW duduk di bawah pohon tersebut, bayangan yang sebelumnya menaungi rombongan beralih memayungi beliau.

Buhaira kemudian memperhatikan keadaan tersebut dan berkata: “Lihatlah bayangan pohon itu, ia condong dan memayungi dia (Rasulullah SAW).”

Peristiwa tersebut semakin menguatkan keyakinan Buhaira terhadap tanda-tanda kenabian yang dilihatnya.

Ia kemudian meminta Abu Thalib membawa Rasulullah SAW kembali ke Makkah. Buhaira khawatir para penguasa Romawi akan membunuh Rasulullah SAW karena tanda-tanda yang terdapat dalam dirinya.

Rasulullah SAW Kembali Berdagang ke Syam

Perjalanan Rasulullah SAW ke Syam kembali dilakukan ketika beliau berusia 25 tahun. Kali ini, beliau membawa barang dagangan milik Khadijah.

Khadijah dikenal sebagai saudagar terpandang dan kaya raya. Ia biasanya mengutus orang lain untuk menjalankan perdagangan dengan sistem pembagian keuntungan.

Khadijah kemudian mendengar tentang kejujuran, kredibilitas, dan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW.

Ia pun meminta Rasulullah SAW membawa barang dagangannya menuju Syam. Khadijah bahkan menjanjikan imbalan yang lebih besar dibandingkan pedagang lainnya.

Rasulullah SAW kemudian berangkat ke Syam dengan membawa barang dagangan Khadijah. Dalam perjalanan tersebut, beliau ditemani seorang pembantu bernama Maisarah.

Kisah perjalanan dagang ke Syam menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan kemuliaan dan kejujuran beliau sejak usia muda. (*)