5 Pelajaran dari Kisah Fir’aun yang Diabadikan Al-Qur’an

Lima pelajaran penting dari kisah Fir'aun dalam Al-Qur'an, mulai dari bahaya kesombongan hingga penyalahgunaan kekuasaan. (Foto: iStockphoto)

SerambiMuslim.com – Kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an menyimpan pelajaran penting tentang kesombongan, kezaliman, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Fir’aun digambarkan sebagai penguasa dengan kekuatan besar. Namun, kekuasaan tersebut justru digunakan untuk menindas manusia dan menolak kebenaran.

Ia bahkan menolak dakwah Nabi Musa AS meski telah mendapatkan bukti-bukti kekuasaan Allah SWT.

Kisah Fir’aun bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Al-Qur’an mengabadikannya sebagai peringatan bagi manusia.

Pelajaran tersebut relevan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan Fir’aun.

Dirangkum dari buku “Imannya Fir’aun: karya Eko Setyo Budi, terdapat lima pelajaran penting.

1. Kesombongan Dapat Membawa kepada Kebinasaan

Salah satu sifat paling menonjol dari Fir’aun adalah kesombongannya. Ia tidak hanya menolak dakwah Nabi Musa AS. Fir’aun bahkan menganggap dirinya memiliki kedudukan tertinggi.

Ia berani mengklaim dirinya sebagai tuhan.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nazi’at ayat 24,

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Artinya: “Lalu dia berkata, ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, pernyataan tersebut menunjukkan puncak kesombongan Fir’aun.

Kekuasaan yang dimilikinya membuat Fir’aun melampaui batas. Ia juga tidak mau tunduk kepada kebenaran.

2. Kekuasaan Tidak Boleh Digunakan untuk Menindas

Fir’aun tidak hanya dikenal karena kesombongannya. Ia juga menggunakan kekuasaannya untuk menindas Bani Israil.

Allah SWT menggambarkan tindakan Fir’aun dalam Al-Qur’an Surah Al-Qashash ayat 4,

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat tersebut memperlihatkan bahaya kekuasaan yang tidak disertai keadilan.

Fir’aun membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok. Ia kemudian melemahkan sebagian kelompok tersebut.

Bani Israil menjadi kelompok yang ditindas oleh Fir’aun. Anak laki-laki mereka bahkan dibunuh.

3. Jangan Menolak Kebenaran karena Kesombongan

Nabi Musa AS datang kepada Fir’aun dengan membawa bukti-bukti kekuasaan Allah SWT.

Namun, Fir’aun tetap menolak kebenaran tersebut. Ia bahkan menganggap mukjizat Nabi Musa AS sebagai sihir.

Salah satu dialog Nabi Musa AS dengan Fir’aun diabadikan dalam Al-Qur’an.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰفِرْعَوْنُ مَثْبُوْرًا ۝

Artinya: “Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa engkau, wahai Fir’aun, terlaknat.” (QS Al-Isra’: 102)

Dalam Tafsir Tahili dijelaskan, Nabi Musa AS menyampaikan bahwa Fir’aun sebenarnya mengetahui sumber mukjizat tersebut. Mukjizat itu berasal dari Tuhan yang memiliki langit dan bumi.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa seruan Nabi Musa AS merupakan kebenaran. Hanya orang yang bersih hatinya yang dapat menerima seruan tersebut.

4. Jangan Meremehkan Orang yang Lemah

Fir’aun memiliki kekuatan militer dan kekuasaan yang besar. Ia merasa mampu mempertahankan kekuasaannya dengan menekan orang-orang di bawah kekuasaannya.

Namun, Al-Qur’an menunjukkan keadaan yang berbeda. Orang-orang yang dianggap lemah oleh Fir’aun justru mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Dalam Surah Al-Qashash ayat 5, Allah SWT berfirman,

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Artinya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kekuatan manusia memiliki batas. Orang yang tertindas tidak selamanya berada dalam keadaan lemah.

5. Harta dan Kekuasaan Tidak Dapat Menyelamatkan dari Azab Allah

Fir’aun memiliki kerajaan, pasukan, kekuasaan, dan berbagai fasilitas duniawi. Namun, seluruh kekuatan tersebut tidak mampu menyelamatkannya ketika azab Allah SWT datang.

Puncak kisah Fir’aun terjadi ketika ia mengejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke laut.

Dengan izin Allah SWT, laut terbelah. Nabi Musa AS bersama pengikutnya kemudian dapat melintas.

Ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar, laut kembali seperti semula. Fir’aun dan pasukannya akhirnya tenggelam.

Dalam keadaan akan tenggelam, Fir’aun akhirnya mengakui keimanannya.

Pengakuan tersebut termaktub dalam Surah Yunus ayat 90,

۞ وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Artinya: Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Namun, pengakuan tersebut datang ketika Fir’aun sudah berada dalam kondisi sangat kritis.

Allah SWT kemudian berfirman dalam Surah Yunus ayat 91,

ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Fir’aun beriman ketika keimanan tersebut sudah tidak bermanfaat baginya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyesalan dapat menjadi sia-sia ketika seseorang telah berhadapan dengan azab.

Kisah Fir’aun akhirnya menjadi peringatan tentang bahaya kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan tidak dapat menjadi jaminan keselamatan dari ketetapan Allah SWT. (*)