SerambiMuslim.com – Ilmu pengetahuan di tangan orang yang beradab akan menjadi sarana membangun peradaban dan menghadirkan kemaslahatan bagi banyak orang. Sebaliknya, ilmu tanpa adab justru berpotensi melahirkan kerusakan yang merugikan masyarakat luas.
Dalam Islam, ketakwaan menjadi landasan utama sebelum seseorang menuntut ilmu. Dari ketakwaan itulah lahir adab dan akhlak yang membimbing manusia dalam menggunakan ilmunya secara benar.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, takwa harus didahulukan sebelum ilmu. Menurutnya, salah satu cabang dari ketakwaan adalah adab.
“Takwa harus diutamakan sebelum ilmu, dan salah satu cabang dari takwa adalah adab,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
Hal tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 282:
…وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam Alquran, kata takwa disebut ratusan kali, baik dalam bentuk taqi maupun muttaqin. Hal ini menunjukkan pentingnya takwa sebagai fondasi moral dalam kehidupan seorang Muslim.
Salah satu wujud nyata ketakwaan adalah adab. Orang-orang bertakwa tidak hanya menjaga hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga dengan sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 15–23, Allah SWT menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai hamba yang senantiasa menjaga hubungan dengan-Nya melalui ibadah, rasa syukur, dan ketaatan kepada perintah-Nya. Mereka menyadari kelemahan diri dan bergantung sepenuhnya kepada rahmat Allah SWT.
Selain itu, ciri muttaqin juga tampak dalam hubungan sosialnya. Dalam Surah Ali Imran ayat 133–134 disebutkan:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ustaz Adi Hidayat menegaskan, adab harus didahulukan sebelum ilmu karena adab merupakan sikap moral yang membimbing seseorang untuk berperilaku baik.
“Jika seseorang yang berilmu tidak memiliki adab yang baik, ia dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan orang yang belum berilmu,” jelasnya.
Islam dan Penyempurnaan Akhlak
Islam menempatkan akhlak dalam posisi yang sangat penting. Seluruh aspek ajaran Islam pada hakikatnya mengarah pada pembentukan akhlakul karimah atau akhlak mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Bahkan, kesempurnaan iman seorang Muslim juga diukur dari akhlaknya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
Karena itu, pembinaan akhlak masyarakat perlu dilakukan dengan meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Alquran pun banyak memuat ayat yang berbicara tentang pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia.
Dalam sejarah Islam, kemuliaan akhlak para sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi bukti keberhasilan pendidikan moral yang diajarkan Rasulullah SAW.
Penulis buku “Sejarah Muhammad”, Muhammad Husain Haikal, menggambarkan para pengikut Nabi sebagai pribadi yang takut kepada Allah, rendah hati, dapat dipercaya, sabar, dan tidak memiliki sifat sombong maupun serakah.
Mereka juga dikenal tidak menyebarkan keburukan di tengah masyarakat serta selalu menjaga kehormatan diri dengan akhlak yang mulia.
Karena itu, akhlak menjadi semakin penting bagi orang-orang berilmu atau mereka yang dipercaya publik sebagai tokoh intelektual. Ilmu pengetahuan yang dibarengi akhlakul karimah akan melahirkan manfaat besar bagi peradaban.
Sebaliknya, ilmu tanpa adab dapat menjadi sumber kerusakan. Islam mengajarkan bahwa sebelum mencapai kedalaman ilmu, seseorang harus lebih dahulu membangun ketakwaan dan memperbaiki akhlaknya. (*)







