Fikih  

Amalan Pengganti bagi yang Belum Mampu Ibadah Haji

Inilah sejumlah amalan yang disebut memiliki keutamaan seperti ibadah haji, mulai dari shalat berjamaah, dzikir Subuh, hingga berbakti kepada orang tua. (Foto: Ist/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Tidak semua umat Islam memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Dalam ajaran Islam, kewajiban haji hanya dibebankan kepada mereka yang mampu secara fisik, finansial, dan kondisi perjalanan.

Meski demikian, sebagai salah satu rukun Islam yang sangat diidamkan, Allah SWT memberikan banyak jalan kebaikan lain yang memiliki keutamaan besar.

Sejumlah amalan bahkan disebut memiliki pahala yang menyerupai ibadah haji.

Berikut amalan sebagai pengganti ibadah bagi yang belum mampu ikutip dari NU Online dan berbagai sumber lainnya.

1. Shalat Berjamaah dan Shalat Dhuha

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah menjaga shalat berjamaah lima waktu di masjid serta melaksanakan shalat Dhuha.

Shalat berjamaah memiliki keutamaan berlipat dibandingkan shalat sendiri. Sementara shalat Dhuha disebut memiliki keutamaan seperti umrah, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

“مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ”

Artinya: “Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk shalat fardu, maka baginya seperti pahala haji. Dan siapa yang keluar untuk shalat Dhuha, maka baginya seperti pahala umrah.” (HR. Abu Daud)

2. Zikir Setelah Shalat Subuh dan Isyraq

Amalan lain yang dianjurkan adalah zikir setelah shalat Subuh berjamaah hingga Matahari terbit, lalu dilanjutkan dengan shalat dua rakaat (Isyraq).

Hal ini berdasarkan hadis:

“مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ”

Artinya: “Siapa yang shalat Subuh berjamaah, lalu berdzikir sampai matahari terbit kemudian shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam penjelasannya, Ali Mula Al-Qari menyebutkan bahwa zikir tidak hanya berupa bacaan, tetapi juga bisa dalam bentuk ibadah lain seperti menghadiri majelis ilmu.

3. Menuntut Ilmu dan Mengajar di Masjid

Pergi ke masjid dengan niat menuntut ilmu atau mengajarkan kebaikan juga memiliki keutamaan besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ”

Artinya: “Siapa yang berangkat ke masjid untuk belajar atau mengajarkan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang menunaikan haji secara sempurna.” (HR. At-Thabarani)

4. Berbakti Kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua juga termasuk amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW pernah menyampaikan bahwa berbuat baik kepada orang tua dapat menyamai pahala haji, umrah, dan jihad dalam maknanya sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian.

5. Ibadah dengan Penuh Keikhlasan

Dalam sejumlah literatur, termasuk karya “Menjadi Haji Tanpa Berhaji” karya Agus Mustofa, disebutkan bahwa umat Islam dapat menghidupkan makna ibadah haji melalui amalan lain seperti puasa Arafah pada 9 Zulhijah, shalat Iduladha, dan berkurban dengan penuh keikhlasan serta penghayatan.

Beragam amalan tersebut menjadi bentuk rahmat Allah SWT bagi umat Islam yang belum mampu menunaikan ibadah haji.

Meski tidak menggantikan kewajiban haji bagi yang mampu, seluruh amalan itu memiliki nilai pahala dan keutamaan besar jika dilakukan dengan ikhlas. (*)