SerambiMuslim.com – Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian besar terhadap pentingnya memilih teman yang baik dalam kehidupan, termasuk dalam konteks perjalanan ibadah seperti haji.
Pemilihan teman seperjalanan dinilai berpengaruh besar terhadap kualitas ibadah seseorang di Tanah Suci.
Calon jamaah haji diingatkan agar tidak meremehkan aspek ini. Pasalnya, bergaul dengan orang yang lalai dapat berdampak pada menurunnya kekhusyukan dan semangat beribadah selama menjalankan rangkaian haji di Makkah dan Madinah.
Dalam buku ‘Bekal Haji’ karya Ustaz Firanda Andirja, dijelaskan sebuah hadis Rasulullah SAW:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخْالِلُ
“Seseorang berada di atas agama sahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sahabatnya.” (HR. at-Tirmidzi)
Hadis tersebut menegaskan bahwa seseorang cenderung mengikuti karakter dan kebiasaan teman dekatnya. Dalam ungkapan Arab juga dikenal pepatah bahwa “sahabat akan menyeret,” yang menggambarkan kuatnya pengaruh lingkungan pertemanan terhadap perilaku seseorang.
Jika hubungan pertemanan tidak membawa kesesuaian nilai, maka interaksi tersebut biasanya tidak bertahan lama. Sebaliknya, pertemanan yang sehat akan membentuk keselarasan sikap dan perilaku.
Dalam konteks ibadah haji, pemilihan teman menjadi faktor penting. Jamaah dianjurkan untuk mencari teman yang saleh, mengingatkan pada akhirat, serta mendorong semangat beribadah selama berada di Tanah Suci.
Hal ini juga mencakup menjaga lisan dari ghibah, tidak terjebak dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, serta memanfaatkan waktu yang terbatas untuk ibadah.
Pelaksanaan haji yang hanya berlangsung dalam waktu singkat menuntut keseriusan dan fokus tinggi. Oleh karena itu, memilih biro perjalanan atau pembimbing haji yang tepat juga menjadi bagian penting dalam upaya meraih haji mabrur.
Apabila dalam satu rombongan terdapat orang yang cenderung menyia-nyiakan waktu dengan hal yang tidak bermanfaat, jamaah dianjurkan untuk menjaga jarak.
Sebaliknya, jika terdapat rekan yang rajin beribadah, membaca Alquran, berdzikir, dan bersemangat dalam ibadah, maka dianjurkan untuk mendekat agar turut termotivasi.
Syafaat Sahabat Saleh di Akhirat
Dalam ajaran Islam, dampak pertemanan tidak hanya terbatas di dunia, tetapi juga berlanjut hingga kehidupan akhirat.
Alquran menggambarkan dengan jelas bagaimana hubungan pertemanan dapat berubah menjadi permusuhan, kecuali bagi mereka yang bertakwa.
اَلۡاَخِلَّاۤءُ يَوۡمَٮِٕذٍۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِيۡنَ
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Umar bin Khattab RA juga pernah menegaskan bahwa tidak ada kenikmatan setelah Islam yang lebih besar daripada memiliki saudara atau sahabat yang saleh.
Ia menasihatkan agar seseorang yang telah mendapatkan sahabat saleh hendaknya menjaganya dengan baik.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga menggambarkan kondisi orang beriman di akhirat yang saling memberi syafaat.
Setelah sebagian mukmin dibebaskan dari neraka, mereka memohon kepada Allah SWT agar saudaranya yang masih berada di dalamnya juga diampun.
Mereka berkata bahwa orang-orang tersebut dahulu pernah bersama mereka dalam ibadah seperti puasa, shalat, dan haji. ***




