Fikih  

Bimbingan Ibadah Haji dari Imam Ghazali

PPIH Arab Saudi mengimbau jamaah haji Indonesia memahami manasik, menjaga kesehatan, dan membawa kartu Nusuk jelang puncak haji Armuzna 2026. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Ulama besar Islam, Imam Ghazali, tidak hanya dikenal melalui karya monumentalnya “Ihya Ulum ad-Din”. Tokoh yang dijuluki Hujjatul Islam ini juga menulis sejumlah kitab lain yang membahas berbagai aspek kehidupan umat Islam, termasuk ibadah haji.

Salah satu karya Imam Ghazali yang membahas perjalanan ke Tanah Suci ialah “Asrar al-Hajj”. Dalam kitab tersebut, ia menjelaskan makna spiritual, adab, hingga berbagai hal yang sebaiknya dihindari jamaah selama menjalankan ibadah haji.

Menurut Imam Ghazali, haji merupakan salah satu fondasi utama dalam Islam sekaligus simbol kesempurnaan agama seseorang.

Ia menilai ibadah haji memiliki kedudukan sangat mulia, khususnya bagi Muslim yang telah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Ia bahkan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai ancaman bagi orang yang mampu berhaji tetapi enggan melaksanakannya.

“Barang siapa yang mati dan belum sempat berhaji, padahal dia mampu, maka hendaklah dia mati sebagai Yahudi atau Nasrani.”

Dalam kitab tersebut, Imam Ghazali juga mengulas sejumlah hal yang dimakruhkan bagi jamaah ketika berada di Tanah Suci, salah satunya menetap terlalu lama di Kota Makkah.

Menurutnya, para ulama memandang hal itu makruh karena beberapa alasan. Pertama, jamaah dikhawatirkan merasa terlalu nyaman hingga berkurang rasa hormat terhadap Kabah dan Masjidil Haram. Karena itu, Khalifah Umar bin Khattab disebut mendorong jamaah agar segera kembali ke negeri masing-masing setelah musim haji selesai.

Kedua, agar rasa rindu terhadap Baitullah tetap terjaga. Imam Ghazali menyebut, kerinduan kepada Kabah justru dapat tumbuh kuat ketika seseorang berada jauh dari Tanah Suci.

“Berada di suatu negeri dengan hati yang selalu merindukan Kabah lebih baik daripada berada dan menetap di Makkah, tetapi hatinya merindukan tempat lain,” tulisnya.

Ketiga, jamaah dikhawatirkan melakukan dosa atau pelanggaran selama berada di Tanah Haram. Menurut Imam Ghazali, perbuatan maksiat di Tanah Suci dapat mengundang kemurkaan Allah SWT. Ia pun mengingatkan kisah pasukan bergajah pimpinan Abrahah yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Selain itu, Imam Ghazali juga menekankan pentingnya menjaga adab sejak sebelum keberangkatan haji. Ia mengingatkan agar setiap jamaah meluruskan niat semata-mata demi meraih ridha Allah SWT.

Perjalanan ke Tanah Suci, menurutnya, tidak boleh didasari keinginan mencari popularitas atau sekadar berwisata. Jamaah harus memahami bahwa seluruh rangkaian ibadah haji merupakan bentuk penghambaan kepada Allah.

Mulai dari mengenakan ihram di miqat, mengucapkan talbiyah, hingga menjalankan seluruh rangkaian manasik, setiap tahapan ibadah disebut memiliki hikmah dan rahasia spiritual yang mendalam.

Imam Ghazali meyakini, seseorang yang memahami makna di balik setiap manasik haji akan pulang dengan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih jernih, dan semangat lebih kuat dalam memperdalam ilmu agama. ***