Muhammadiyah Imbau Hidup Hemat, Ekonomi Sedang Tidak Baik

PP Muhammadiyah mengimbau hidup hemat di tengah tekanan ekonomi global. Sementara itu, rupiah melemah ke Rp17.405 per dolar AS dan IHSG turut terkoreksi. (Foto: Kabarbursa.com)

SerambiMuslim.com – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran yang mengimbau seluruh elemen organisasi membudayakan pola hidup hemat dan efisien dalam pengelolaan anggaran.

Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 5/EDR/I.0/2026 yang menekankan pentingnya efisiensi, terutama di tengah dinamika ekonomi nasional dan global yang belum stabil.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan organisasi.

“Seluruh pimpinan Persyarikatan di setiap tingkatan diharapkan memprioritaskan program strategis yang berdampak langsung, serta mengurangi kegiatan seremonial yang tidak mendesak,” ujar Haedar, Selasa, 5 Mei 2026.

Selain itu, PP Muhammadiyah juga mendorong pembatasan kegiatan yang membutuhkan biaya besar, seperti pertemuan skala regional maupun nasional, serta kunjungan langsung yang dapat digantikan dengan pertemuan daring.

Sekretaris PP Muhammadiyah M Sayuti menambahkan bahwa efisiensi juga perlu diterapkan dalam operasional sehari-hari.

“Penghematan energi di kantor-kantor Muhammadiyah menjadi perhatian, termasuk mempertimbangkan penggunaan energi alternatif seperti panel surya,” katanya.

Organisasi juga diminta membatasi perjalanan luar negeri, khususnya untuk agenda yang tidak bersifat prioritas.

Rupiah Melemah, IHSG Turut Terkoreksi

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah pada Selasa pagi. Rupiah turun 11 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS.

Pergerakan ini terjadi menjelang rilis data ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.

Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka melemah 3,38 poin atau 0,05 persen ke posisi 6.968,57. Indeks LQ45 turut turun 0,12 persen menjadi 673,76.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan tekanan pasar dipicu oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Eskalasi konflik di Selat Hormuz, termasuk serangan terhadap kapal dan fasilitas energi, menjadi faktor utama yang membebani pasar,” ujar Liza.

Menurutnya, situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat merespons melalui inisiatif pengamanan jalur pelayaran, sementara Iran memperingatkan akan menyerang pihak asing yang masuk ke kawasan tersebut.

“Ketegangan meningkat kembali setelah sempat mereda, sementara negosiasi damai masih mengalami kebuntuan, khususnya terkait isu nuklir,” jelasnya.

Lonjakan konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran 113–114 dolar AS per barel, sementara WTI berada di level 105–106 dolar AS per barel.

Tekanan Global Bayangi Ekonomi Domestik

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia menunjukkan tren melandai. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan pada April 2026, dengan inflasi inti di level 2,44 persen.

Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi. Neraca perdagangan masih mencatat surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS, namun berada di bawah ekspektasi pasar.

Ekspor tercatat turun 3,1 persen (yoy), sementara impor hanya tumbuh 1,51 persen (yoy), mencerminkan lemahnya permintaan global dan moderasi konsumsi domestik.

“Secara fundamental, stabilitas harga masih terjaga, tetapi ada indikasi perlambatan ekonomi, terlihat dari PMI manufaktur yang kembali kontraksi di level 49,1,” kata Liza. ***