SerambiMuslim.com – Pendidikan anak dalam Islam menempatkan orang tua sebagai aktor utama dalam membentuk karakter dan kebiasaan sejak dini.
Anak dipandang sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dibimbing agar tumbuh dalam nilai-nilai keimanan dan ketaatan.
Ulama terkemuka Yusuf al-Qaradawi menekankan pentingnya pembiasaan ibadah sejak usia dini. Dalam pandangannya, anak perlu mulai dikenalkan dan dibiasakan menjalankan ibadah wajib, seperti shalat, sejak usia tujuh tahun.
“Kebaikan tumbuh dari kebiasaan, dan keburukan pun lahir dari kebiasaan. Orang tua yang akan menentukan arah pertumbuhan anak,” tulis Yusuf al-Qaradawi dalam salah satu karyanya.
Menurutnya, metode pendidikan terbaik bukan sekadar perintah, melainkan keteladanan. Orang tua dituntut menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari agar nilai-nilai Islam tertanam secara alami pada anak.
Tahapan Pendidikan Ibadah Anak
Dalam ajaran Islam, terdapat tahapan dalam mendidik anak terkait kewajiban ibadah. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan orang tua untuk memerintahkan anak melaksanakan shalat sejak usia tujuh tahun.
Tahap berikutnya adalah pendisiplinan saat anak berusia 10 tahun. Namun, Yusuf al-Qaradawi mengingatkan bahwa pendekatan ini bukanlah pilihan utama, melainkan langkah terakhir setelah proses pembiasaan dilakukan secara konsisten.
“Pemukulan merupakan metode darurat, bukan pilihan utama. Pendidikan dengan keteladanan dan nasihat yang bijak jauh lebih diutamakan,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan teladan Rasulullah SAW yang tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mendidik, baik kepada keluarga maupun orang lain.
Peran Orang Tua Sangat Menentukan
Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak dinilai sangat besar, terutama dalam membiasakan anak menjalankan kewajiban sebelum mencapai usia balig. Tanpa pembiasaan sejak dini, anak akan kesulitan menjalankan perintah agama saat dewasa.
“Jika mereka baru diperintah setelah balig, itu akan terasa sangat berat bagi mereka,” ujar Yusuf al-Qaradawi.
Teladan Luqman dalam Alquran
Alquran juga menghadirkan sosok Luqman sebagai teladan dalam mendidik anak. Dalam Surah Luqman, ia digambarkan sebagai pribadi yang bijak dan penuh hikmah dalam menanamkan nilai-nilai keimanan.
Nasihat pertama yang diajarkan Luqman kepada anaknya adalah larangan mempersekutukan Allah (syirik), yang disebut sebagai kezaliman besar.
Selain itu, ia juga mengajarkan pentingnya bersyukur, berbakti kepada orang tua, serta menjaga hubungan baik meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
Pakar pendidikan Islam Adian Husaini menyebutkan bahwa ajaran Luqman mencerminkan prioritas utama dalam pendidikan anak.
“Adab kepada Allah adalah fondasi pertama yang harus ditanamkan kepada anak sebelum nilai lainnya,” ujarnya.
Menanamkan Iman dan Akhlak Sejak Dini
Selain akidah, Luqman juga mengajarkan kesadaran ihsan, yakni keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Ia juga menanamkan kewajiban shalat, amar makruf nahi munkar, serta kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
Tak hanya itu, aspek akhlak sosial turut menjadi perhatian. Anak diajarkan untuk bersikap rendah hati dan menjauhi kesombongan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak dalam Islam tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, akhlak, serta kesiapan menghadapi kehidupan sosial. ***





