Pergerakan Jemaah Haji Indonesia Dipantau Sensor Pintar

Arab Saudi menerapkan sensor pintar terintegrasi Kartu Nusuk untuk mengatur pergerakan jemaah haji secara real time demi efisiensi dan keamanan. (Foto: Unplash/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memperkenalkan sistem sensor pintar di Mina yang terintegrasi dengan Kartu Nusuk guna mengatur pergerakan jemaah haji secara real time pada musim Haji 1447 Hijriah.

Inovasi ini menjadi langkah baru dalam pengelolaan ibadah haji berbasis teknologi. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengendalian kerumunan, memperlancar mobilitas antar lokasi ibadah, serta menyediakan data akurat bagi pengambil kebijakan.

Kartu Nusuk menjadi instrumen utama dalam sistem ini. Tersedia dalam format digital dan fisik, kartu tersebut berfungsi sebagai identitas resmi jemaah sekaligus akses masuk ke berbagai lokasi suci, termasuk Masjidil Haram.

Dengan integrasi ke dalam platform perizinan terpadu, sistem ini juga memungkinkan percepatan respons layanan dan pengawasan di lapangan.

Di sisi operasional, teknologi sensor membantu petugas dalam mengidentifikasi data jemaah secara presisi, meminimalkan risiko tersesat, serta memastikan akses yang tertib menuju tenda maupun transportasi selama puncak ibadah.

Distribusi Kartu Nusuk bahkan telah dilakukan sejak di negara asal jemaah. Seluruh jemaah diwajibkan membawa dan mengaktifkan kartu tersebut saat memasuki Makkah, kawasan suci, hingga Masjid Nabawi, termasuk area Raudhah.

Kartu Nusuk Jadi “Nyawa” Jemaah

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan Zulkifli Sitorus menegaskan pentingnya Kartu Nusuk bagi jemaah selama berada di Tanah Suci.

“Kartu Nusuk yang baru bapak ibu terima ini adalah ‘nyawa’ kita selama di Tanah Suci,” ujar Zulkifli saat memberi arahan kepada 359 calon jemaah haji Kloter 10 Embarkasi Medan di Asrama Haji Medan, Sabtu kemarin.

Ia menjelaskan, kartu tersebut menjadi syarat wajib untuk mengakses berbagai lokasi ibadah, baik di Makkah maupun Madinah, serta tempat-tempat suci lainnya di Arab Saudi.

“Kartu ini digunakan untuk masuk ke Masjidil Haram, melaksanakan tawaf dan sa’i, berziarah ke makam Rasulullah di Madinah, hingga masuk ke Raudhah. Puncaknya saat pelaksanaan wukuf di Arafah,” jelasnya.

Zulkifli menambahkan, Kartu Nusuk memuat data profil dan kesehatan jemaah yang telah disiapkan sejak embarkasi sebelum keberangkatan.

Ia juga mengingatkan agar jemaah menjaga kartu tersebut dengan baik dan tidak membagikan informasinya di media sosial.

“Jangan sampai hilang. Sebaiknya selalu digantung di leher, kecuali saat mandi,” pesannya.

Ribuan Jemaah Sumut Diberangkatkan

Sebanyak 359 calon jemaah haji Kloter 10 Embarkasi Medan berasal dari Sumatera Utara, terdiri atas 207 orang dari Kabupaten Deli Serdang, 147 orang dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan, serta lima petugas haji.

Namun, satu calon jemaah atas nama Azwar Husni Lubis dilaporkan batal berangkat karena sakit sebelum memasuki asrama haji.

Secara keseluruhan, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan mencatat sebanyak 5.990 jemaah, termasuk 68 petugas, diberangkatkan ke Tanah Suci pada periode 22 April hingga 11 Mei 2026. ***