SerambiMuslim.com – Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa malaikat turut mendoakan manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Ada doa yang dipanjatkan bagi mereka yang berada di jalan kebaikan, dan ada pula doa yang ditujukan bagi mereka yang menempuh jalan keburukan.
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «ما مِنْ يومٍ يُصْبِحُ العِبادُ فيهِ إلا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ، فيقولُ أَحَدُهُمَا: اللهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، ويقولُ الآخَرُ: اللهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Di riwayatkan Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa setiap pagi dua malaikat turun mendampingi manusia. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang gemar berinfak.” Sementara malaikat lainnya berdoa, “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA, dijelaskan bahwa setiap anggota tubuh manusia memiliki peluang untuk bersedekah setiap hari. Bahkan, bentuk sedekah tidak selalu berupa harta.
كل سُلامى من الناس صدقة , كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين اثنين صدقة , وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أ, ترفع عليها متاعه صدقة , والكلمة الطيبة صدقة , وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة , وتميط الأذى عن الطريق صدقة
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mendamaikan dua orang yang berselisih merupakan sedekah. Menolong seseorang naik ke kendaraannya atau membantu mengangkat barangnya juga termasuk sedekah. Ucapan yang baik bernilai sedekah, begitu pula setiap langkah menuju shalat, serta usaha menyingkirkan gangguan dari jalan umum. (HR Muslim)
Dengan demikian, sedekah tidak terbatas pada mereka yang memiliki kelebihan harta. Setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya melalui berbagai amal kebaikan.
Abu Mas’ud RA meriwayatkan bahwa para sahabat yang bekerja sebagai kuli pun tetap berusaha bersedekah. Mereka menjalankan perintah Rasulullah SAW sesuai kemampuan yang dimiliki.
Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Abu ‘Uqail bersedekah setengah gantang, sementara yang lain turut bersedekah dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai kesanggupan mereka.
Namun, tindakan ini justru mendapat ejekan dari orang-orang munafik. Mereka meremehkan sedekah tersebut dan menuduh para sahabat melakukannya karena riya. Menanggapi hal itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْددَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِييمٌ
“(Orang-orang munafik) yaitu mereka yang mencela kaum mukmin yang bersedekah dengan sukarela dan mereka yang hanya mampu memberi sesuai kesanggupannya. Lalu mereka menghina semuanya. Allah akan membalas penghinaan tersebut, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS At-Taubah: 79)
Ayat ini menegaskan bahwa sekecil apa pun sedekah yang diberikan dengan ikhlas tetap memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. ***




