SerambiMuslim.com – Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya etika dalam aktivitas perdagangan. Kesantunan, kejujuran, serta sikap memudahkan orang lain menjadi kunci utama untuk meraih keberkahan dalam setiap transaksi.
Dalam berbagai riwayat, Rasulullah mengingatkan para pedagang agar menjauhi praktik tidak terpuji seperti sumpah palsu, serta tetap berbuat baik kepada siapa pun, termasuk kepada pihak yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban.
Afzalurrahman dalam bukunya “Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pedagang” menjelaskan, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang santun dan berintegritas tinggi dalam setiap aktivitas bisnisnya.
Berikut sejumlah ajaran Rasulullah SAW terkait etika berdagang:
1. Bersikap Santun dalam Transaksi
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersikap ramah dan lapang dalam setiap proses jual beli.
عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: رَحِمَ اللهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى
Dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Rahmat Allah atas orang yang bersikap mudah ketika menjual, membeli, dan saat menagih.” (HR Imam Bukhari).
2. Tidak Berlebihan dalam Bersumpah
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar pedagang tidak menjadikan sumpah sebagai alat untuk melariskan dagangan.
عن أبي قتادة رضي الله عنه : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إيَّاكُمْ وكَثْرَةَ الحَلِفِ في البيع، فإنه يُنَفِّقُ ثم يَمْحَقُ
Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah banyak bersumpah dalam jual beli, karena hal itu memang dapat melariskan barang, tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
3. Menjauhi Sumpah Palsu
Sumpah palsu dalam perdagangan termasuk perbuatan yang mendapat ancaman keras.
عن أبي ذر، عن النبي ﷺ قال: ثلاثة لا يكلمهم اللَّه يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم … قال: … والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Dari Abu Dzar RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dipandang, tidak disucikan, dan mendapat azab yang pedih… salah satunya adalah orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Imam Muslim).
4. Menjunjung Kejujuran
Kejujuran menjadi prinsip utama dalam berdagang yang dijanjikan kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Dari Abu Sa’id RA, Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR Imam Tirmidzi).
Ajaran-ajaran tersebut menunjukkan bahwa perdagangan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada nilai moral dan keberkahan.
Dengan menerapkan prinsip kejujuran dan kesantunan, aktivitas ekonomi tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah. ***





