SerambiMuslim.com – Perdebatan mengenai hakikat siksa kubur masih menjadi pembahasan di kalangan ulama. Meski mayoritas ulama sepakat bahwa siksa kubur adalah suatu keniscayaan, perbedaan pendapat muncul terkait bentuknya: apakah menimpa jasad, ruh, atau keduanya.
Dalam karyanya Al-Mautu wa ‘Alamul Barzakh, Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan bahwa sebagian pihak meragukan adanya siksa kubur dengan alasan empiris. Mereka berargumen bahwa jika kuburan orang kafir atau pelaku maksiat dibongkar beberapa hari setelah pemakaman, tidak ditemukan tanda-tanda bekas siksaan pada jasadnya.
Pandangan tersebut kemudian dipertanyakan dengan merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW:
“Kalaulah bukan karena kekhawatiranku bahwa kalian tidak akan saling menguburkan, aku pasti akan berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan azab kubur kepada kalian seperti yang aku dengarkan.” (HR Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Imam An-Nasa’i).
Menurut penjelasan ulama, anggapan bahwa siksa kubur harus terlihat secara fisik justru bertentangan dengan konsep alam gaib. Jika siksaan tersebut dapat disaksikan langsung oleh manusia, maka ujian keimanan terhadap hal gaib menjadi tidak relevan.
Allah SWT berfirman:
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa huwal-‘azīzul-gafūr(u).
Artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk: 2)
Keimanan terhadap hal gaib merupakan salah satu fondasi utama dalam Islam. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Alif Lām Mīm. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS Al-Baqarah: 1–3)
Konsep ini menegaskan bahwa tidak semua ciptaan Allah dapat dijangkau oleh indra manusia. Sebagian diciptakan dalam dimensi gaib, seperti malaikat dan jin, yang keberadaannya diyakini melalui dalil wahyu, bukan pengamatan langsung.
Allah SWT juga berfirman:
“… Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri …” (QS Al-Muddatstsir: 31)
Dengan demikian, tidak terlihatnya siksa kubur secara kasat mata bukanlah bukti ketiadaannya. Justru hal tersebut menjadi bagian dari sistem ujian keimanan manusia.
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menegaskan bahwa siksa kubur merupakan realitas yang tidak dapat disangkal. Namun, bentuknya termasuk dalam perkara gaib yang tidak diperlihatkan kepada manusia.
Ia menjelaskan bahwa siksa kubur tidak hanya menimpa jasad, tetapi juga ruh. Bahkan, siksaan terhadap ruh disebut lebih dahsyat dibandingkan siksaan fisik. Siksaan ini bersifat batiniah dan dapat terjadi secara berulang, seperti pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, ruh orang beriman akan merasakan kenikmatan pada waktu yang sama.
Meski demikian, keberadaan siksa ruh tidak menafikan kemungkinan adanya siksa jasad. Allah SWT Maha Kuasa untuk memberikan azab kepada keduanya tanpa harus memperlihatkan tanda-tanda fisik yang dapat disaksikan manusia. ***






