Global  

Antek-antek Trump Sebut Inggris bakal Jadi Negara Muslim

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 70?

SerambiMuslim.com – Mantan Wali Kota New York sekaligus pengacara pribadi Donald Trump, Rudy Giuliani, melontarkan pernyataan kontroversial yang menyasar Raja Inggris, Charles III, serta komunitas Muslim di Britania Raya.

Dalam wawancara podcast Uncensored yang dipandu Piers Morgan pada Senin (30/3), Giuliani mengklaim secara spekulatif bahwa Raja Charles III “mungkin” telah memeluk Islam secara diam-diam.

Ia juga menyebut Inggris berpotensi menjadi negara Muslim dalam satu dekade ke depan.

“Dalam sepuluh tahun, Inggris bisa berubah menjadi negara Muslim,” ujar Giuliani, tanpa menyertakan bukti yang dapat diverifikasi.

Tak berhenti di situ, ia bahkan melontarkan serangan personal dengan menyebut Raja Charles III sebagai “monarki Muslim Inggris”, merujuk pada pandangan yang kerap beredar dalam teori konspirasi.

Pernyataan Giuliani dinilai memelintir fakta mengenai ketertarikan Raja Charles III terhadap Islam. Sebagai kepala Church of England, Raja Charles III dikenal menjalankan keyakinan Kristen secara taat.

Namun, ia juga lama dikenal memiliki ketertarikan terhadap seni, budaya, dan filsafat Islam. Bahkan, ia mempelajari bahasa Arab untuk memahami Alquran secara langsung.

Berbeda dengan narasi “islamisasi” yang disampaikan Giuliani, Raja Charles III justru berulang kali menekankan kontribusi positif komunitas Muslim. Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut Muslim sebagai bagian penting yang memperkaya kehidupan sosial dan budaya Inggris.

Pernyataan keras Giuliani muncul di tengah upayanya membela kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Ia menuding pengaruh Islam di Inggris sebagai ancaman yang dikaitkan dengan Teheran.

“Singkirkan Republik Islam Iran, maka seluruh gerakan ini akan berbalik arah,” kata Giuliani.

Dalam wawancara tersebut, Giuliani juga melontarkan kritik tajam terhadap hukum Islam. “Hukum Syariah dan Alquran adalah kultus kematian,” ucapnya.

Pernyataan itu bertentangan dengan fakta di lapangan. Di Inggris, dewan syariah hanya berfungsi sebagai lembaga mediasi informal, tanpa kekuatan hukum yang mengikat dalam sistem peradilan negara.

Kontras dengan Pandangan Inklusif Charles III

Pernyataan Giuliani juga berseberangan dengan pandangan lama Charles III. Dalam pidato terkenalnya pada 1993 saat masih menjadi Pangeran Wales, ia menekankan pentingnya peran Islam dalam peradaban Barat.

“Islam adalah bagian dari masa lalu dan masa kini kita. Ia membantu membentuk Eropa modern dan merupakan bagian dari warisan bersama,” ujar Charles dalam pidato tersebut.

Pandangan itu mencerminkan pendekatan inklusif yang melihat agama sebagai sumber nilai universal, bukan alat polarisasi.

Islamofobia dalam Bingkai Politik

Sejumlah analis menilai retorika Giuliani sebagai bentuk Islamofobia yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Giuliani bahkan menuding Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, terlalu dipengaruhi pemilih Muslim dan gagal mengintegrasikan mereka ke dalam identitas nasional.

Namun, data survei terbaru menunjukkan kecenderungan berbeda. Komunitas Muslim di Inggris justru tercatat memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap negara, sekaligus berkontribusi aktif dalam berbagai sektor publik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana Buckingham belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, sejumlah tokoh lintas agama di Inggris menyerukan agar narasi kebencian tidak digunakan dalam wacana politik internasional karena berpotensi merusak kohesi sosial. ***