SerambiMuslim.com – Ketegangan geopolitik dan percepatan teknologi dinilai telah membawa dunia pada fase baru yang kompleks. Selain menciptakan kemajuan, perkembangan tersebut juga memunculkan risiko serius, mulai dari dehumanisasi hingga ancaman terhadap keberlanjutan umat manusia.
Dalam situasi ini, pendekatan berbasis nilai kemanusiaan dinilai semakin mendesak. Sejumlah pihak menilai dunia tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan kekuatan politik, tetapi juga membutuhkan fondasi spiritual untuk menjaga keseimbangan peradaban.
Gagasan tersebut mengemuka dalam dialog perdamaian internasional yang digelar Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) bersama Kuil Miidera di Kyoto, Jepang, serta Sakuranesia, pada 20 April 2026. Forum ini mempertemukan tokoh lintas agama dan negara guna merumuskan respons terhadap krisis global.
Selain diskusi, kegiatan tersebut juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara LPOI dan Tenma Hospital Group. Kolaborasi ini mencakup pengembangan rumah sakit, riset stem cell, serta layanan kesehatan berbasis pendekatan spiritual dan natural medicine.
Ketua Umum LPOI Said Aqil Siroj mengatakan dunia saat ini tengah memasuki babak baru yang sarat kompleksitas. Menurutnya, konflik antarblok peradaban telah memberi dampak signifikan terhadap masa depan perdamaian global.
“Dunia tengah memasuki fase baru dengan dinamika yang semakin rumit. Kompetisi global dan benturan kepentingan telah memicu konflik yang mengancam masa depan kemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat, 24 April 2026.
Ia menekankan pentingnya “rekalibrasi spiritual” sebagai langkah untuk menata ulang arah peradaban dunia. Pendekatan ini dinilai dapat menyelaraskan kembali nilai dan orientasi global yang mulai tergerus.
LPOI, lanjutnya, menawarkan konsep “Spiritual and Natural Lifestyle” sebagai alternatif solusi. Pendekatan ini mengedepankan keseimbangan antara manusia, nilai spiritual, dan alam.
“Kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab bersama menjaga bumi harus terus dibangun. Ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya perdamaian,” kata Said Aqil.
Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab kemanusiaan. Pendidikan dan pembentukan karakter, menurutnya, menjadi kunci untuk menanamkan nilai tersebut sejak dini.
“Ini saatnya para tokoh agama mengambil peran. Tidak boleh ada sikap diam ketika dunia berada di ambang perpecahan,” tegasnya.
Senada, Sekretaris Jenderal LPOI, Gus Imam Pituduh, menyebut pendekatan spiritual dan natural dapat menjadi jembatan antarperadaban.
Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut bukan sekadar gagasan teoritis, melainkan telah berkembang dalam praktik kehidupan masyarakat, khususnya di kawasan Asia.
“Pendekatan ini hadir dalam bentuk nyata, seperti spiritual and natural medicine dan spiritual and natural farming, yang langsung menyentuh kebutuhan dasar manusia,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pangan dan kesehatan merupakan pilar utama dalam menjaga keberlanjutan peradaban. Karena itu, penguatan kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.
Sementara itu, Founder Sakuranesia, Tovic Rustam, menyatakan forum ini merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran global berbasis nilai kemanusiaan.
Ia menjelaskan, Jepang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi pusat aktivitas organisasinya sekaligus memiliki nilai historis dalam diplomasi budaya.
“Kami ingin membangun gerakan bersama lintas negara. Kolaborasi dengan tokoh agama menjadi kunci untuk memperkuat solidaritas global,” katanya.
Forum tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari ulama, akademisi, hingga pemimpin lembaga sosial dari Indonesia dan Jepang. Sejumlah profesor dan guru besar dari universitas di Jepang juga turut ambil bagian, menunjukkan tingginya perhatian dunia akademik terhadap isu kemanusiaan global.
Selain itu, kehadiran mantan duta besar Jepang untuk Indonesia turut memperkuat dimensi diplomasi dalam forum tersebut.
Dialog ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan pendekatan non-militer dalam menyelesaikan konflik global. Para peserta sepakat bahwa solusi masa depan harus menggabungkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Forum lintas agama dan budaya seperti ini pun dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai dan berkelanjutan. ***






