Global  

Mesut Ozil Didepak Arsenal Karena Bela Muslim Uighur

Mesut Ozil mengungkap alasan hengkang dari Arsenal pada 2021, terkait sikapnya terhadap isu Muslim Uighur di Xinjiang yang memicu kontroversi. (Foto: Instagram Mesut Ozil)

SerambiMuslim.com – Mantan gelandang Mesut Ozil akhirnya buka suara soal keputusannya meninggalkan Arsenal pada 2021. Ia menyebut, situasi tersebut bermula setelah dirinya vokal menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, China, pada akhir 2019.

Dalam sebuah forum internasional, Ozil mengaku sadar bahwa sikapnya berpotensi menimbulkan konsekuensi besar terhadap karirnya. Namun, ia tetap memilih bersuara.

“Saya mendengar soal Uighur Turki dan melakukan riset. Sebagai seorang figur publik, saya merasa harus berbicara. Saya tahu itu akan membawa masalah, tapi saya tidak peduli,” ujar Ozil, dikutip dari Football London, Kamis, 30 April 2026.

Tak lama setelah unggahan tersebut, Ozil mengklaim dirinya tersisih dari skuad utama Arsenal. Ia bahkan harus menjalani latihan secara mandiri selama berbulan-bulan sebelum akhirnya sepakat mengakhiri kontrak di Stadion Emirates.

“Mereka menutup pintu bagi saya. Saya tidak diizinkan bermain lagi. Itu masa sulit, karena saya sangat menikmati sepak bola dan itu seperti diambil begitu saja,” katanya.

Ozil juga memahami sikap rekan-rekannya yang tidak banyak memberikan dukungan secara terbuka. Menurutnya, situasi tersebut membuat banyak pihak berada dalam posisi sulit.

“Saya mengerti teman-teman setim saya. Jika mereka mendukung saya, mereka juga bisa terkena dampaknya. Mereka harus menjaga keluarga mereka,” tambahnya.

Selama masa sulit tersebut, Ozil mengaku mendapatkan kekuatan dari keluarganya. Ia menyebut kehadiran istri dan anaknya menjadi faktor penting yang membantunya bertahan.

“Saya selalu bilang kepada anak muda, keluarga memberi kekuatan besar. Saat itu saya berlatih sendiri selama delapan bulan, dan itu bukan hal mudah,” ujarnya.

Bantahan Manajemen Arsenal

Di sisi lain, manajemen Arsenal membantah bahwa keputusan terkait Ozil dipengaruhi oleh sikap politik sang pemain. Mantan CEO Arsenal, Vinai Venkatesham, menegaskan bahwa pernyataan Ozil merupakan pandangan pribadi.

“Tidak adil jika dikatakan kami mengambil sudut pandang komersial. Pernyataan tersebut dibuat dalam kapasitas individu, bukan mewakili klub,” kata Venkatesham.

Sikap serupa juga disampaikan pihak klub melalui pernyataan resmi pada Desember 2019. Arsenal menegaskan posisinya sebagai organisasi yang tidak terlibat dalam isu politik.

“Arsenal selalu menjadi organisasi yang apolitis. Pernyataan Mesut Ozil adalah pendapat pribadinya,” demikian pernyataan klub saat itu.

Kontroversi Unggahan Uighur

Kontroversi bermula dari unggahan Ozil di media sosial pada Desember 2019 yang menyoroti kondisi Muslim Uighur di Xinjiang. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut wilayah itu sebagai Turkistan Timur dan menyuarakan kritik keras terhadap dugaan penindasan.

Unggahan itu menuai reaksi luas, terutama dari publik di China. Sejumlah penggemar bahkan menyerukan boikot terhadap Arsenal.

Sebaliknya, mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, menilai Ozil memiliki hak untuk menyampaikan pandangannya, namun tetap harus siap dengan konsekuensi.

“Apa yang dia katakan adalah atas nama dirinya sendiri, bukan klub. Dan setiap pernyataan tentu memiliki konsekuensi,” ujar Wenger.

Ozil membela Arsenal selama delapan tahun sejak didatangkan dari Real Madrid pada 2013 dengan nilai transfer 42,5 juta poundsterling. Ia kemudian melanjutkan karier ke Fenerbahce sebelum akhirnya memutuskan pensiun pada 2023 akibat masalah cedera. ***