Lima Upaya Yahudi Ledakkan Masjid Al-Aqsa Sejak 1967

Mantan Ketua Knesset Avraham Burg mengungkap sedikitnya lima upaya kelompok ekstremis untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa sejak 1967. (Foto: iStockphoto)

SerambiMuslim.com – Mantan Ketua Parlemen Israel (Knesset), Avraham Burg, mengungkap adanya sejumlah upaya dari kelompok Yahudi ekstremis untuk menghancurkan kompleks Masjid Al-Aqsa sejak 1967.

Dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat, Tucker Carlson, Burg menyebut setidaknya terdapat lima percobaan untuk meledakkan Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu.

“Setidaknya ada lima upaya untuk meledakkan Masjid Al-Aqsa, dan saya sama sekali tidak yakin tidak ada yang lain. Kelompok-kelompok ini berusaha menghancurkan Masjid Al-Aqsa dari Bukit Bait Suci sejak 1967,” ujar Burg, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 26 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar jumlah pendukung penghancuran masjid, melainkan tingkat militansi kelompok tersebut.

“Ini bukan soal berapa banyak orang yang mendukung pembongkaran masjid, melainkan soal dedikasi, kesiapan, dan fanatisme mereka yang siap bertindak,” katanya.

Menanggapi hal itu, Carlson mengaku terkejut dengan pengakuan tersebut.
“Saya bingung, saya tidak tahu ada lima upaya untuk menghancurkan Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Saat ditanya apakah benar terdapat konspirasi untuk meledakkan kedua situs suci tersebut, Burg menjawab singkat, “Ya.”

Wawancara ini kemudian menyebar luas di media sosial, di tengah meningkatnya perhatian terhadap situasi di Masjid Al-Aqsa, termasuk penutupan kawasan tersebut selama 25 hari dengan alasan keadaan darurat.

Provokasi Meningkat di Media Sosial

Di sisi lain, sejumlah politisi dan aktivis Israel meningkatkan retorika terkait Al-Aqsa melalui media sosial.

Politisi sayap kanan Israel, Moshe Feiglin, menyebut penutupan kawasan Al-Aqsa sebagai indikator kekuatan.

“Hal yang sangat baik sedang terjadi pada kita, kita terus menutup Bukit Bait Suci dan tidak terjadi ledakan atau pemberontakan,” tulisnya di Instagram.

Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, turut memicu ketegangan melalui unggahan video yang menunjukkan pembatasan terhadap warga Palestina di sekitar Al-Aqsa.

“Salah satu faktor ketenangan selama Ramadan adalah kepemimpinan komandan wilayah Yerusalem… ketika para perusuh mengujinya, kalian akan melihat apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Tak hanya itu, jurnalis sayap kanan Israel, Yonon Magal, juga menuai kecaman setelah mengunggah pernyataan bernada hasutan terkait lokasi Masjid Al-Aqsa di platform X.

Provokasi serupa turut datang dari rabi ekstremis Baruch Marzel, yang membagikan gambar hasil kecerdasan buatan dengan narasi satir terkait kawasan tersebut.

Kekhawatiran Eskalasi dan Perubahan Status

Sejumlah aktivis menilai pernyataan Burg bukanlah hal baru, melainkan bagian dari pola lama yang terus berulang.

Mereka menyoroti adanya pembatasan ketat terhadap akses ibadah di Masjid Al-Aqsa, yang dinilai sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengubah status quo di kawasan suci tersebut.

Selain itu, penutupan masjid dalam beberapa pekan terakhir dinilai memperbesar kekhawatiran karena minimnya pengawasan internasional terhadap situasi di dalam kompleks.

Aktivis juga mengingatkan bahwa meningkatnya hasutan di ruang digital, bersamaan dengan pembatasan fisik di lapangan, berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Penutupan Masjid Al-Aqsa sendiri berlangsung sejak meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Sejumlah negara Arab dan Islam telah menyampaikan kecaman atas kebijakan tersebut, serta memperingatkan dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan status historis situs suci tersebut. ***