SerambiMuslim.com – Pertanyaan tentang mengapa Allah tidak terlihat sering muncul di berbagai kalangan masyarakat.
Sejumlah pendakwah menjelaskan hal ini melalui pendekatan akidah Islam dan penalaran sederhana.
Habib Husein Ja’far Al Hadar menyebut ketidakmampuan manusia melihat Allah bukan hal aneh. Menurutnya, sekalipun Allah tampak secara kasat mata, manusia belum tentu langsung beriman.
Ia mencontohkan kisah para nabi yang menunjukkan mukjizat, namun tetap ditolak sebagian kaumnya.
“Anggapan manusia akan beriman jika melihat Tuhan itu keliru,” ujar Habib Husein Ja’far.
Ia menegaskan bahwa Allah bukan materi, sementara manusia hanya melihat sesuatu yang bersifat materi.
Karena itu, pendekatan sains dinilai tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan secara langsung.
“Sains bekerja pada ranah materi, sedangkan Tuhan bersifat immateri,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam berbagai ceramahnya. Ia mengajak jamaah memahami konsep tersebut melalui contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Coba bernafas. Nampak? Tidak. Ciptaan saja tak terlihat, apalagi Sang Pencipta,” ujar Ustadz Abdul Somad.
Ia juga menjelaskan konsep “besar” yang tidak selalu bermakna fisik, melainkan pengaruh dan kekuasaan.
Dalam kisah lain, UAS menceritakan pengalaman seorang mualaf yang tertarik pada Islam. Menurutnya, keunikan Islam salah satunya adalah konsep Tuhan yang tidak tampak secara fisik.
UAS juga menyinggung pandangan Democritus tentang materialisme. Pandangan tersebut menyatakan sesuatu dianggap ada jika bisa dilihat atau disentuh.
Dalam Islam, realitas tidak hanya mencakup yang terlihat, tetapi juga yang tidak terlihat. Ia mencontohkan emosi seperti cinta, benci, dan marah yang nyata meski tak terlihat.
Dalam sejarah Islam, tidak ada nabi yang mampu melihat Allah secara langsung. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi salah satu momen penting dalam pembahasan tersebut.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan Allah sebagai “cahaya di atas cahaya” yang tidak dapat dilihat.
Kisah Nabi Musa juga menunjukkan keterbatasan manusia melihat Allah. Saat memohon melihat Allah, gunung di hadapannya hancur ketika Allah menampakkan keagungan-Nya.
Peristiwa itu menegaskan keterbatasan makhluk dalam menerima keagungan Sang Pencipta. ***






