SerambiMuslim.com – Sejarah awal Islam mencatat interaksi antara Yahudi dan bangsa Arab dalam aspek ekonomi dan politik.
Orang Yahudi mengelola perdagangan biji-bijian, kurma, khamr, dan kain, baik impor maupun ekspor.
Mereka meminjamkan uang kepada pemimpin Arab, kadang dengan bunga tinggi atau riba, untuk keuntungan maksimal.
“Orang Yahudi mengambil keuntungan berlipat dan menggunakan pinjaman sebagai strategi ekonomi,” tulis kitab Sirah Nabawiyah.
Pinjaman ini membuat beberapa tanah dan kebun Arab beralih kepemilikan jika hutang tidak dilunasi tepat waktu.
Mereka juga memicu perselisihan antar-kabilah Arab dengan cara licik, hingga peperangan berkepanjangan terjadi.
Setelah konflik, Yahudi menonton peperangan sambil tetap meraup keuntungan dari bunga pinjaman.
Fenomena ini memungkinkan mereka menumpuk kekayaan sambil mempertahankan eksistensi dalam masyarakat Arab.
Dalam kitab Sirah Nabawiyah, disebutkan mereka membaur dengan budaya Arab, berbahasa dan berpakaian Arab.
Meski berbaur, mereka tetap menjaga identitas Yahudi dan kadang melecehkan bangsa Arab sebagai Ummiyyin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞ وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًا ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Ayat ini menyoroti perilaku sebagian Ahli Kitab terhadap orang-orang Ummiyyin, dan pentingnya kehati-hatian dalam amanah.
Pada masa itu, praktik agama Yahudi lebih bersifat ramalan, mantra, dan ritual tertentu, bukan penyebaran dogma secara luas.
Mereka kerap menekankan kemampuan spiritual atau kelebihan pribadi untuk membangun reputasi di masyarakat. ***






