Jejak Islam di Nusantara Berawal dari Pelabuhan Tua

Pelabuhan tua seperti Barus, Samudera Pasai, Malaka, dan Sunda Kelapa menjadi bagian penting jejak Islam di Nusantara. (FOTO: iStockphoto/ILUSTRASI)

SerambiMuslim.com – Pelabuhan tua menjadi salah satu jalur penting masuknya Islam ke berbagai wilayah Nusantara.

Sejak dahulu, Nusantara dikenal sebagai kawasan strategis dalam jalur perdagangan maritim dunia.

Letaknya membuat wilayah kepulauan ini ramai didatangi pedagang dari berbagai penjuru dunia.

Para pedagang tidak hanya membawa komoditas, terutama rempah-rempah, tetapi juga ajaran dan nilai keagamaan.

Interaksi perdagangan kemudian turut membuka ruang bagi perkembangan Islam di sejumlah wilayah Nusantara.

Sejumlah pelabuhan tua bahkan menjadi saksi penting proses awal islamisasi di kawasan tersebut.

Pelabuhan Barus, Sumatra Utara

Pelabuhan Barus berada di wilayah pesisir barat Pulau Sumatra. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan dikenal sebagai kawasan perdagangan sejak masa lampau.

Mengutip buku “Sejarah Pelabuhan Barus 1901-1983 dari Masa Kolonial Hingga Masa Orde Baru” karya R. Fauzan As Meuraxa. Pelabuhan Barus disebut telah ada sejak abad ke-10 Masehi.

Pelabuhan kuno tersebut banyak dikunjungi saudagar dari India, Timur Tengah, dan Persia.

Hubungan perdagangan antardaerah kemudian turut membuka jalur masuknya Islam ke Barus. Hal tersebut juga dibahas dalam buku “Sejarah Masuknya Islam ke Bandar Barus.”

Buku tersebut mengulas hubungan dagang wilayah Pantai Barat dengan kawasan di luar Nusantara.

Pelabuhan Samudera Pasai, Aceh

Pelabuhan Samudera Pasai menjadi salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Aceh.

Dalam buku “Arkeologi Islam Nusantara” karya Uka Tjandrasasmita, Samudera Pasai dikenal sebagai kota pelabuhan.

Komoditas yang diperdagangkan antara lain lada, sutera, kapur barus, dan berbagai barang lainnya.

Setelah Malaka mengalami kekalahan dalam perang, Samudera Pasai berkembang semakin makmur.

Pelabuhan tersebut didatangi pedagang dari berbagai negara dan kawasan. Mereka antara lain berasal dari Turki, Arab, Persia, Gujarat, Roma, Bengal, Melayu, Jepang, hingga Siam.

Interaksi perdagangan tersebut turut menjadikan pelabuhan Samudera Pasai sebagai pusat islamisasi di Aceh.

Pelabuhan Malaka

Malaka telah berkembang sebagai kerajaan Islam pada awal abad ke-15. Kerajaan Malaka memiliki hubungan erat dengan Samudera Pasai dalam bidang diplomatik dan ekonomi.

Sejumlah pedagang dari berbagai wilayah datang dan melakukan aktivitas perdagangan di Malaka. Mereka berasal dari Kairo, Makkah, Persia, Turki, Gujarat, serta sejumlah kawasan lainnya.

Pertumbuhan Pelabuhan Malaka dan Samudera Pasai turut memengaruhi perkembangan kerajaan Islam di Jawa. Keduanya berkembang di sepanjang jalur Selat Malaka yang menjadi kawasan perdagangan penting.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa juga memiliki peran penting dalam sejarah Islam di Nusantara.

Dalam buku “Dinamika Islam di Nusantara” karya Ahmad Zuhdi dan sejumlah penulis lainnya, hal tersebut dibahas.

Penguasaan Sunda Kelapa dilakukan melalui serangan pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten. Hal itu dilakukan sebagai upaya membendung pengaruh Portugis di kawasan perdagangan.

Portugis sebelumnya telah menguasai Malaka sejak 1511. Penguasaan Sunda Kelapa membuat pengaruh Portugis dapat disingkirkan dari jalur perdagangan internasional.

Jalur tersebut juga menjadi bagian penting dalam perdagangan regional di Nusantara.

Pelabuhan Pesisir Jawa Jadi Jalur Dakwah

Aktivitas perdagangan kemudian membuat sejumlah pelabuhan pesisir utara Jawa berkembang pesat. Pelabuhan tersebut antara lain Gresik, Sedayu, Tuban, Jepara, Demak, Cirebon, Jakarta, dan Banten.

Pelabuhan-pelabuhan itu ramai didatangi pedagang dari berbagai kawasan. Mereka berasal dari Arab, Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Asia Tenggara.

Pertemuan antarpedagang menciptakan ruang interaksi sosial dan keagamaan.

Dari kawasan pesisir, pengaruh Islam kemudian meluas menuju sejumlah wilayah pedalaman. Penyebaran tersebut mencakup daerah Babadan, Kuningan, Indramayu, hingga Karawang.

Dengan demikian, pelabuhan memiliki peran penting dalam proses perkembangan Islam di Tanah Sunda.

Aktivitas dakwah tersebut berlangsung seiring berkembangnya hubungan perdagangan antarkawasan.

Motif ekonomi menjadi salah satu faktor yang mendukung terbentuknya jaringan interaksi tersebut.

Pelabuhan akhirnya menjadi simpul penting dalam perjalanan sejarah penyebaran Islam di Nusantara. (*)