Kerajaan Perlak, Kesultanan Islam Pertama di Nusantara?

Kerajaan Perlak disebut sebagai kesultanan Islam pertama di Nusantara. Simak sejarah Sultan Abdul Aziz Syah hingga bergabung dengan Samudera Pasai. (Foto: Kemendikdasmen.go.id)

SerambiMuslim.com – Sejarah Kerajaan Perlak di Aceh menjadi salah satu sumber perdebatan mengenai kesultanan Islam tertua di Nusantara.

Selama ini, Samudera Pasai yang didirikan Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Shaleh dikenal sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Namun, sejumlah kajian filologi terhadap naskah kuno menghadirkan versi sejarah berbeda. Kajian tersebut menyebut Kerajaan Perlak atau Peureulak telah berdiri sebelum Samudera Pasai.

Dalam sejumlah naskah klasik, Perlak disebut sebagai dinasti Islam yang telah berkembang sejak abad ke-9.

Lantas, siapa raja pertama di Nusantara yang memeluk Islam?

Sultan Abdul Aziz Syah, Raja Islam Pertama?

Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah disebut sebagai raja pertama di Nusantara yang beragama Islam.

Ia juga dikenal sebagai penguasa pertama Kerajaan Perlak yang menerapkan pemerintahan Islam.

Kedudukan tersebut dirujuk melalui penelaahan sejumlah naskah klasik dan kajian para pakar sejarah.

Melansir website Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz disebut berasal dari Jazirah Arab. Ia disebut sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis ayah maupun ibu.

Sultan Abdul Aziz kemudian menikah dengan perempuan dari kalangan masyarakat Aceh.

Dalam menjalankan pemerintahan, Sultan Abdul Aziz menerapkan sistem monarki. Bahasa Aceh dan Melayu digunakan sebagai sarana komunikasi di lingkungan kerajaan.

Perlak Disebut Kesultanan Islam Pertama

Status kerajaan Islam tertua di Nusantara masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah.

Perbedaan pandangan tersebut kemudian mendorong dilakukannya seminar untuk membahas sejarah Kerajaan Perlak.

Menurut buku “Sejarah Nusantara yang Disembunyikan” karya Indiana Malia, seminar di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur, membahas persoalan tersebut. Seminar tersebut menetapkan Perlak sebagai kesultanan Islam pertama di Nusantara.

Kesimpulan itu merujuk pada sejumlah naskah klasik yang membahas sejarah Perlak dan Pasai. Beberapa di antaranya adalah “Risalah Idhar al-Haq fi Mamlakati Derla wa al-Fasi” karya Abu Ishak al-Makarani.

Ada pula “Tazlorat Tabaqat Jumu’ Sultan al-Salatin” karya Syeikh Samsul Bahri Abdullah al-Asyi. Naskah lainnya adalah “Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai” karya Sayid Abdullah ibn Sayid Habib Saifuddin.

Berdasarkan penelaahan naskah tersebut, Perlak disebut berdiri pada 1 Muharram 225 H atau 840 M. Pada saat bersamaan, Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dinobatkan sebagai sultan pertama.

Masa Kejayaan Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak berkuasa di wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh, sejak 840 hingga 1292. Kerajaan tersebut berkembang karena wilayahnya memiliki sumber kayu perlak yang melimpah. Kayu tersebut menjadi salah satu bahan penting untuk pembuatan kapal.

Letaknya juga mendukung Perlak berkembang menjadi pelabuhan perdagangan.

Pada abad ke-8, kawasan tersebut disebut berkembang menjadi pelabuhan niaga yang ramai. Kapal-kapal dari Arab dan Persia disebut singgah di wilayah tersebut.

Perlak kemudian berkembang sebagai salah satu kota perdagangan internasional. Pedagang dari berbagai wilayah, termasuk pedagang Muslim, turut meramaikan aktivitas perdagangan.

Perlak Terpecah Akibat Konflik Sunni dan Syiah

Kerajaan Perlak kemudian menghadapi pergolakan akibat perbedaan aliran Islam. Persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah memicu perebutan kekuasaan.

Konflik tersebut berkembang menjadi perang saudara di lingkungan kerajaan.

Pergolakan mencapai puncaknya setelah Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat meninggal.

Kerajaan Perlak kemudian terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan. Keduanya adalah Perlak Pesisir yang dikuasai kelompok Syiah dan Perlak Pedalaman yang dikuasai kelompok Sunni.

Konflik kembali terjadi ketika Perlak menghadapi Kedatuan Sriwijaya pada 986 M. Dalam perang tersebut, Sultan Alaiddin Syad Maulana Mahmud Syah gugur. Ia merupakan pemimpin Perlak Pesisir saat menghadapi Sriwijaya.

Sementara itu, Perlak Pedalaman dipimpin Sultan Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat. Pasukan Perlak Pedalaman akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan perang pada 1006 M.

Kemenangan tersebut membuat wilayah Perlak kembali bersatu di bawah Sultan Malik Ibrahim Syah.

Kerajaan Perlak Bergabung dengan Samudera Pasai

Setelah melewati berbagai pergolakan, kekuasaan Kerajaan Perlak akhirnya berakhir. Pada 1292, Kerajaan Perlak bergabung dengan Kerajaan Samudera Pasai.

Peristiwa tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Perlak sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Meski demikian, sejarah Perlak tetap menjadi bagian penting dalam pembahasan awal perkembangan Islam di Nusantara. (*)