14 Pahlawan Nasional dari Kalangan Santri dan Kiai

Mengenal 14 Pahlawan Nasional dari kalangan santri dan kiai yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Pesantren menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Selain mendalami ilmu agama, para santri dan kiai turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Sejumlah tokoh dari lingkungan pesantren bahkan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Mereka berasal dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang perjuangan yang beragam. Salah satu tokoh paling dikenal adalah Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta.

Diponegoro pernah menimba ilmu agama di Pesantren Gebang Tinanar, Ponorogo. Pesantren tersebut berada di bawah asuhan Kiai Hasan Besari.

Selain Diponegoro, sejumlah ulama dan santri turut memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia.

Berikut sejumlah Pahlawan Nasional yang memiliki latar belakang pesantren dan perjuangan keumatan.

1. KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.

Ia pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren terkemuka di Jawa. Pesantren tersebut antara lain Wonokoyo, Langitan, Trenggilis, Kademangan, dan Siwalan.

Peran pentingnya tercatat dalam sejarah melalui Resolusi Jihad. Seruan tersebut mendorong semangat rakyat melawan kekuatan penjajah.

2. KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren.

Tokoh bernama asli Muhammad Darwis tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1961. Penetapan tersebut berdasarkan SK Presiden Nomor 657 Tahun 1961.

Sejak kecil, ia tumbuh dalam tradisi pesantren dan mempelajari ilmu agama. Ia juga mendalami bahasa Arab sebelum memperluas pengetahuannya ke Makkah.

Pada usia 15 tahun, Ahmad Dahlan memperdalam ilmu agama di Makkah selama lima tahun.

3. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro merupakan salah satu tokoh utama dalam Perang Jawa melawan kolonialisme.

Ia lahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar. Namanya kemudian berubah menjadi Bendara Raden Mas Antawirya. Ia juga dikenal dengan nama Islam Abdul Hamid.

Diponegoro dibesarkan GKR Ageng Tegalreja yang memiliki garis keturunan ulama. Ia tumbuh dalam lingkungan santri dan memperkuat kepribadian melalui pendidikan pesantren.

Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres Nomor 87/TK/1973.

4. KH Wahid Hasyim

KH Wahid Hasyim merupakan putra KH Hasyim Asy’ari. Ia juga merupakan ayah dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada 24 Agustus 1964.

Wahid Hasyim pernah belajar di Pesantren Siwalan, Panji, dan Lirboyo Kediri. Setelah kembali ke Tebuireng, ia mendorong pembaruan pendidikan pesantren. Salah satu langkahnya dilakukan melalui pendirian Madrasah Nidzmiyah.

5. KH Zainal Arifin

KH Zainal Arifin dikenal sebagai pemimpin Laskar Hizbullah. Tokoh yang akrab disapa Lora Zainal tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1963.

Ia menimba ilmu di Pesantren Karay, Sumenep. Ia juga berguru di pesantren KH Muhammad Kholil, Bangkalan.

Setelah Indonesia merdeka, kiprahnya berlanjut dalam pemerintahan. Ia dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia pada periode 1953-1955.

6. KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa merupakan ulama karismatik asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Syuriyah NU.

Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972. Ia dikenal sebagai tokoh perlawanan rakyat terhadap penjajahan di Singaparna.

Pendidikan keagamaannya ditempuh di sejumlah pesantren di Jawa Barat. Di antaranya Gunung Pari, Cilenga Leuwisari, Sukaraja Garut, Sukamiskin Bandung, dan Jamanis Rajapolah.

7. KH Noer Ali

KH Noer Ali dikenal dengan julukan “Singa Karawang-Bekasi”. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan fisik masyarakat Bekasi. Pemerintah mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2006.

Pada masa muda, ia berguru kepada Guru Maksum, Guru Mughni, dan KH Marzuki. Jasa perjuangannya kemudian diabadikan menjadi nama jalan protokol di wilayah Bekasi.

8. KH Idham Chalid

KH Idham Chalid dikenal sebagai ulama sekaligus politisi berpengaruh. Menurut catatan NU, ia pernah menjadi Wakil Perdana Menteri dalam dua kabinet. Ia juga pernah memimpin lembaga MPR dan DPR.

Idham Chalid tercatat sebagai Ketua Umum PBNU dengan masa kepemimpinan terlama. Ia memimpin organisasi tersebut sejak 1956 hingga 1984.

Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2011. Wajahnya kemudian diabadikan dalam pecahan uang Rp5.000 emisi 2016.

9. KH Abdul Wahab Chasbullah

KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan ulama dari Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Ia berperan dalam pendirian sejumlah lembaga strategis pergerakan Islam. Lembaga tersebut antara lain Tashwirul Afkar, Madrasah Nahdlatul Wathan, dan Nahdlatut Tujjar.

Bersama KH Hasyim Asy’ari, ia turut mendirikan NU pada 1926. Ia kemudian dipercaya mengemban posisi Rais ‘Aam PBNU.

Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2014.

10. KH As’ad Syamsul Arifin

KH As’ad Syamsul Arifin merupakan pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Ia memimpin perlawanan rakyat di wilayah Situbondo, Jember, dan Bondowoso.

Ia juga mengomandoi santri dalam Pertempuran 10 November 1945. Setelah kemerdekaan, ia aktif mengawal pemerataan pembangunan. Ia juga menegaskan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam.

Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2016.

11. KH Syam’un

KH Syam’un merupakan ulama terpelajar asal Serang, Banten. Ia menguasai tiga bahasa asing dan pernah menempuh pendidikan di Arab Saudi.

Setelah kembali ke Indonesia, ia bergabung dengan PETA. Karier militernya terus berkembang hingga mencapai pangkat Brigadir Jenderal. Ia kemudian memimpin ribuan pasukan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

KH Syam’un gugur pada 1949. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.

12. KH Masykur

KH Masykur merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam BPUPKI. Ia turut memberikan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan Pancasila.

Tokoh NU tersebut juga berperan dalam pembentukan PETA. Organisasi tersebut kemudian menjadi salah satu cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Perannya memperlihatkan keterlibatan ulama dalam perjuangan membangun pertahanan negara.

13. KH Mas Mansoer

KH Mas Mansoer lahir di Surabaya pada 25 Juni 1896. Ia merupakan putra KH Mas Ahmad Marzuqi dan Raudhah.

Mas Mansoer tumbuh dalam lingkungan pesantren Sidoresmo dan Demangan Bangkalan.mIa kemudian menimba ilmu di Makkah dan melanjutkan pendidikan di Al-Azhar, Mesir.

Setelah kembali ke Indonesia, ia mengajar di Pesantren An-Najjiyah. Ia juga aktif di Sarekat Islam dan mendirikan Taswirul Afkar.

Pada 1937, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

Dalam bidang politik, Mas Mansoer turut memprakarsai berdirinya MIAI dan PII. Ia juga terlibat aktif dalam GAPI.

Pada masa pendudukan Jepang, ia bergabung dalam kelompok Empat Serangkai. Kelompok tersebut dipimpin Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro.

Mas Mansoer turut memperjuangkan kemerdekaan melalui berbagai organisasi pergerakan. Ia juga tercatat sebagai anggota BPUPKI.

Di Surabaya, ia terlibat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Ia wafat dalam tahanan musuh pada 25 April 1946.

Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 26 Juni 1964.

14. KH Agus Salim

KH Agus Salim lahir di Agam, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Ia lahir dengan nama Mashadul Haq dan dikenal sebagai intelektual Muslim.

Lulusan terbaik HBS tersebut menguasai tujuh bahasa asing. Ia juga memiliki pengalaman mendalami ajaran Islam di Jeddah.

Saat berada di Jeddah, Agus Salim bekerja di konsulat Belanda. Pengalaman tersebut turut membentuk kepakarannya dalam diplomasi internasional.

Kiprah politiknya terlihat melalui Sarekat Islam dan Panitia Sembilan BPUPKI. Ia juga berperan dalam perumusan Undang-Undang Dasar 1945.

Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man. Ia merupakan diplomat penting yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri.

Pada 1947, ia berperan dalam memperoleh pengakuan de jure Indonesia dari Mesir. Ia juga mewakili Indonesia dalam sejumlah forum internasional. Forum tersebut berlangsung antara lain di India dan Amerika Serikat.

Agus Salim turut menjembatani nilai Islam dengan gagasan modernitas. Ia juga membina kader muda seperti Mohammad Natsir dan Mohammad Roem. Pembinaan tersebut dilakukan melalui Jong Islamieten Bond.

Deretan tokoh tersebut menunjukkan besarnya kontribusi pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia. Perjuangan mereka tidak hanya berlangsung melalui pendidikan dan dakwah.

Mereka juga berperan dalam pergerakan politik, diplomasi, militer, dan perjuangan kemerdekaan.

Warisan perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia. (*)