Islam Masuk Indonesia Saat Nabi Muhammad SAW Masih Hidup?

Ilustrasi penyebaran agama Islam di Nusantara. (Foto: Chatgpt/Serambi Muslim)

SerambiMuslim.com – Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, sejarah mencatat proses masuknya Islam ke Nusantara berlangsung jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.

Sejumlah teori berkembang untuk menjelaskan awal kedatangan Islam di Indonesia. Teori tersebut antara lain Teori Gujarat, Persia, Tiongkok, dan Makkah atau Arab.

Di antara teori tersebut, Teori Makkah menyebut Islam telah masuk Nusantara sejak abad ke-1 Hijriah. Periode tersebut bertepatan dengan sekitar abad ke-7 Masehi.

Teori ini bahkan mengaitkan kedatangan Islam di Nusantara dengan masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Dalam buku Awal Mula Muslim di Bali Kampung Loloan Jembrana Sebuah Entitas Kuno karya H. Bagenda Ali, perkembangan Islam di Indonesia disebut berlangsung amat cepat.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari hubungan antara pedagang muslim dari Arab, Gujarat, dan Persia dengan masyarakat lokal.

Salah satu bukti yang kerap dikaitkan dengan Teori Makkah adalah keberadaan perkampungan Islam kuno di Pantai Barus, Sumatera Utara. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Bandar Khalifah. Dalam catatan bangsa China, wilayah itu disebut Ta-Shih.

Istilah Ta-Shih digunakan untuk menyebut orang-orang Arab yang datang ke wilayah tersebut.

Dokumen China kuno Chu Fan Chi yang mengutip catatan ahli geografi Chou Ku-Fei mencatat keberadaan komunitas muslim Arab di Pantai Barus sekitar 625 Masehi.

Tahun tersebut menjadi penting karena hanya sekitar sembilan tahun setelah Nabi Muhammad SAW memulai dakwah Islam secara terbuka di Makkah.

Catatan itu kemudian memunculkan dugaan bahwa komunitas muslim telah mencapai pesisir Nusantara ketika Rasulullah SAW masih hidup.

Para sahabat atau pedagang muslim diperkirakan melakukan pelayaran hingga wilayah pesisir Sumatera.

Pelayaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan dorongan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China.

Temuan Makam Kuno di Barus

Indikasi keberadaan komunitas muslim pada masa awal juga dikaitkan dengan temuan arkeologis di kompleks pemakaman Mahligai, Barus.

Di lokasi tersebut ditemukan makam kuno dengan batu nisan bertuliskan nama Syekh Rukunuddin.

Syekh Rukunuddin disebut wafat pada 672 Masehi. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti yang sering digunakan dalam pembahasan sejarah awal Islam di Nusantara.

Riset bersama École Française d’Extrême-Orient (EFEO) Prancis dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional turut memperkuat posisi Barus sebagai kawasan penting.

Riset tersebut menunjukkan bahwa Barus berkembang menjadi kota pelabuhan kosmopolitan pada abad ke-9 hingga ke-12 Masehi.

Kota tersebut dihuni berbagai kelompok dari berbagai wilayah. Mereka antara lain berasal dari Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Bugis, dan Bengkulu.

Keberadaan komunitas muslim di kawasan pesisir tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Islam di Sumatera. Perkembangan itu turut berkaitan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam awal di wilayah tersebut. Salah satunya adalah Kerajaan Perlak yang kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Samudera Pasai.

Dengan demikian, sejarah awal Islam di Nusantara tidak hanya berkaitan dengan satu jalur kedatangan.

Berbagai teori dan bukti sejarah menunjukkan adanya hubungan perdagangan serta pelayaran antara Nusantara dan dunia Islam sejak masa awal.

Teori Makkah menjadi salah satu teori yang menempatkan kedatangan Islam di Nusantara pada periode paling awal, bahkan ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. (*)