SerambiMuslim.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya peran imam dalam upaya membangun perdamaian dunia.
Menurut Nasaruddin, para imam dapat mengambil peran strategis dalam meredam konflik yang masih berlangsung di berbagai kawasan.
Ia secara khusus menyoroti konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Nasaruddin mengajak para imam menggunakan pendekatan nurani dan bahasa kemanusiaan untuk mendekati pihak-pihak yang berkonflik.
“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian, kehadiran imam sebagai moderator antara kemauan Tuhan dengan kehendak manusia,” kata Nasaruddin Umar saat membuka International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Acara tersebut dihadiri 49 imam besar, mufti, dan tokoh agama dari berbagai negara.
Nasaruddin mengatakan imam memiliki kedekatan yang intens dengan masyarakat.
“Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam akan berjumpa dengan umat, bahkan melampaui seringnya pemerintah atau pimpinan-pimpinan ormas yang lain berjumpa dengan umat,” sambung Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Diplomasi Agama Dinilai Penting
Di hadapan para imam besar dunia, Nasaruddin menekankan pentingnya diplomasi agama. Menurutnya, diplomasi agama dapat menjadi pendekatan alternatif dalam menyelesaikan konflik regional dan internasional.
Ia menilai pendekatan formal belum mampu menghentikan sejumlah peperangan dan konflik berkepanjangan.
“Begitu pentingnya imam. Banyak persoalan yang tidak bisa kita selesaikan dengan bahasa formal. Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Bahkan PBB sendiri pun juga tidak mampu berbuat banyak mengatasi konflik berkepanjangan di sekitar Timur Tengah dan di tempat-tempat yang lain. Imam berusaha untuk menawarkan suatu solusi lain,” ujarnya.
Nasaruddin kemudian mengajak para imam mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Menurutnya, bahasa nurani dapat digunakan untuk menjembatani pihak-pihak yang berkonflik.
“Mari kita melakukan pendekatan lain, bagaimana kita mendekati antar para pihak dengan bahasa nurani. Menggunakan bahasa kemanusiaan. We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apa pun, etnik mana pun juga. Semua punya rasa kemanusiaan,” tegasnya.
Nasaruddin berharap pendekatan tersebut dapat membantu meredam konflik dan ketegangan. Ia menilai keberadaan imam menjadi strategis karena memiliki hubungan langsung dengan masyarakat.
IGIC 2026 Hadirkan Delegasi 39 Negara
Diplomasi keagamaan dan perdamaian global menjadi topik utama IGIC 2026. Forum tersebut menghadirkan imam besar, mufti besar, dan tokoh agama dari berbagai belahan dunia.
Ketua Panitia IGIC 2026, M Sabilul Alif, mengatakan 49 delegasi internasional telah terkonfirmasi menghadiri forum tersebut.
Para delegasi berasal dari 39 negara dan terdiri atas grand imam, grand mufti, serta tokoh agama.
“Alhamdulillah sampai dengan pelaksanaan hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para grand imam, grand mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia. Selain itu, sekitar 350 peserta dari dalam negeri juga turut hadir. Beliau-beliau ini adalah para delegasi imam Nusantara yang hadir bersama kita dari belahan Indonesia dari barat sampai timur,” sebutnya.
IGIC 2026 berlangsung pada 25-28 September 2026 di Jakarta.
Forum tersebut menjadi ruang pertemuan para pemimpin agama untuk membahas diplomasi keagamaan dan perdamaian global. (*)






