Nasaruddin Umar: Imam Besar Bisa Redam Konflik Dunia

Nasaruddin Umar menekankan peran imam besar untuk menyentuh hati nurani masyarakat dan meredam konflik melalui pendekatan agama. (Foto: iStockphoto/ILUSTRASI)

SerambiMuslim.com – Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menekankan pentingnya peran imam besar dalam meredam konflik melalui pendekatan keagamaan.

Menurut Nasaruddin, imam besar memiliki posisi strategis untuk menyentuh hati nurani masyarakat di tengah berbagai persoalan global.

Menteri Agama RI ini menyebut pertemuan para imam besar dunia di Jakarta menjadi momen bersejarah bagi Indonesia.

Para imam besar tersebut berkumpul dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026.

“Ini adalah pertama kalinya kita mengumpulkan seluruh imam-imam besar dari Timur Tengah, dari Eropa, dari Amerika, Amerika Latin, dari Asia, ada Pakistan, Korea, dan Asia Tenggara,” ujar Nasaruddin dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Imam Besar Dinilai Punya Posisi Strategis

Nasaruddin mengatakan para imam besar memiliki posisi strategis di negara masing-masing. Menurut dia, para imam dapat menyentuh sisi batin masyarakat melalui pendekatan agama.

Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk meredam konflik di berbagai belahan dunia.

Nasaruddin menilai diplomasi formal belum selalu mampu menyelesaikan berbagai persoalan konflik.

“Diplomasi formal ternyata tidak banyak berhasil meredam konflik. Mari kita cari cara lain bagaimana menyentuh hati,” tuturnya.

Kemanusiaan Menyatukan Perbedaan

Nasaruddin kemudian mengingatkan bahwa manusia memiliki rasa kemanusiaan yang sama. Perbedaan agama, etnis, dan kewarganegaraan tidak menghilangkan kesamaan tersebut.

“Kita sangat yakin bahwa kemanusiaan itu hanya satu, humanity is only one. Apa pun agamanya, apa pun etniknya, apa pun warga negaranya, hati insan itu hanya satu,” kata Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, kesamaan tersebut perlu menjadi dasar untuk mempertemukan hati nurani manusia. Dengan cara itu, bahasa agama dapat digunakan untuk membangun kesadaran bersama.

“Kita sama-sama anak Nabi Adam, anak manusia, pasti punya rasa yang sama. Mari mempertemukan hati nurani dan menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan diri kita,” ujarnya.

Nasaruddin mengatakan pendekatan agama juga dapat memperkuat kohesi sosial. Menurut dia, pendekatan tersebut dapat mendukung integrasi masyarakat dunia.

Imam Besar Diajak Peduli Lingkungan

Selain meredam konflik, Nasaruddin mengajak para imam besar meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Menurutnya, agama dapat menjadi sarana untuk mengingatkan manusia agar tidak merusak alam.

“Mari kita menyentuh mereka menggunakan bahasa agama untuk menjaga alam semesta ini,” katanya.

Nasaruddin mengingatkan kerusakan alam akibat ulah manusia dapat berdampak besar terhadap kehidupan. Karena itu, menjaga lingkungan perlu dibangun melalui kesadaran bersama.

“Kalau kita melakukan perusakan alam, maka kita sesungguhnya akan mengundang kiamat. Itu akan datang,” pungkasnya. (*)