SerambiMuslim.com – Dirjen Pesantren Kemenag Basnang Said menyebut tiga fungsi utama pesantren adalah pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat menyusun program kerja dan anggaran setelah struktur barunya resmi terbentuk.
Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said mengatakan penguatan instansi baru tersebut harus bertumpu pada tiga fungsi utama pesantren di Indonesia.
Ketiga fungsi tersebut adalah pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
“Penguatan Ditjen Pesantren harus bertumpu pada tiga fungsi utama pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan. Karena itu, penataan organisasi dan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun fondasi kelembagaan baru tersebut,” kata Basnang Said di Jakarta, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (19/9/2026).
Basnang Said resmi dilantik Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai Dirjen Pesantren pada Selasa (15/9/2026). Pelantikan tersebut menandai dimulainya operasional Ditjen Pesantren sebagai satuan kerja baru setingkat Eselon I dalam struktur organisasi Kemenag.
Targetkan Capaian dalam 100 Hari
Sebagai unit Eselon I baru, Basnang menegaskan Ditjen Pesantren harus menunjukkan hasil kerja dan capaian nyata dalam 100 hari pertama. Ia menargetkan capaian tersebut sudah dapat ditunjukkan kepada Menteri Agama sebelum memasuki 2027.
“Dalam 100 hari pertama, Direktorat Jenderal Pesantren harus mampu menunjukkan capaian yang bermakna bagi pesantren. Sebelum tahun 2027, capaian itu harus bisa kita tunjukkan kepada Menteri Agama,” tegasnya.
Basnang mengatakan Ditjen Pesantren akan fokus mempercepat sejumlah program strategis nasional. Beberapa di antaranya adalah digitalisasi pesantren dan perbaikan sanitasi.
Ditjen Pesantren juga akan memberikan perhatian terhadap penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
“Ditjen Pesantren sudah resmi terbentuk. Tanggung jawab pelaksanaannya sekarang kita emban bersama,” tambahnya.
Perencanaan Harus Berbasis Data
Inspektur II Inspektorat Jenderal Kemenag Mohamad Ali Irfan menekankan pentingnya penajaman perencanaan berbasis data tunggal.
Perencanaan juga harus disusun berdasarkan fungsi dan memiliki output yang jelas. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya duplikasi program dalam pelaksanaan kerja Ditjen Pesantren.
“Penajaman KRO/RO bukan sekadar perbaikan administratif, melainkan fondasi agar setiap rupiah anggaran dapat dilacak manfaatnya,” ujar Ali Irfan.
Ia menjelaskan arsitektur program Ditjen Pesantren bertumpu pada empat fokus utama. Keempatnya mencakup pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan manajemen.
Ditjen Pesantren Siapkan Transisi Anggaran
Sementara itu, Kepala Biro Keuangan dan BMN Setjen Kemenag Ahmad Hidayatullah mengingatkan pentingnya persiapan matang selama masa transisi.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pengalihan fungsi perencanaan dan anggaran dari Ditjen Pendidikan Islam.
“Perencanaan jangan dipikirkan terlalu makro. Fokus dulu pada dua atau tiga hal yang dapat segera diselesaikan, yaitu perencanaan, anggaran, dan perangkat keuangan,” saran Ahmad.
Ahmad juga menekankan kesiapan sumber daya manusia dalam memahami sistem perencanaan dan pengelolaan keuangan. Pemahaman terhadap sistem SAKTI menjadi salah satu hal yang perlu disiapkan.
Selain itu, pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) juga perlu dipastikan agar Ditjen Pesantren dapat langsung beroperasi maksimal saat DIPA diterbitkan.
Dengan struktur baru tersebut, Ditjen Pesantren kini memiliki tanggung jawab khusus dalam memperkuat peran pesantren melalui fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. (*)







