SerambiMuslim.com – Lokasi Bahtera (kapal) Nabi Nuh AS hingga kini masih menjadi misteri. Namun, sebuah tablet tanah liat Babilonia kuno yang diteliti British Museum disebut memberikan petunjuk mengenai lokasi yang diyakini berkaitan dengan bahtera tersebut.
Artefak tersebut dikenal sebagai Imago Mundi, sebuah peta kuno yang berasal dari sekitar abad ke-7 SM. Tablet tanah liat itu disebut sebagai salah satu peta dunia tertua yang ditemukan di kawasan Timur Tengah.
British Museum mengakuisisi artefak tersebut pada 1882. Pada 2024, para ilmuwan kembali meneliti isi peta tersebut dan memecahkan sejumlah teka-teki pada simbol serta aksara paku yang terukir di permukaannya.
Dr. Irving Finkel, kurator British Museum, menjelaskan bahwa Imago Mundi tidak hanya berisi gambaran mengenai wilayah yang dikenal bangsa Babilonia. Bagian belakang dan atas diagram juga memuat aksara paku yang berkaitan dengan penciptaan bumi serta dunia di luar wilayah yang dikenal.
Penjelasan tersebut disampaikan Finkel dalam video yang diunggah di kanal YouTube British Museum pada 1 Agustus 2024, sebagaimana dilansir New York Post.
Petunjuk Bahtera Nabi Nuh dalam Peta Babilonia
Para peneliti menyebut ukiran pada Imago Mundi menggambarkan Mesopotamia kuno, wilayah yang kini berada di Irak.
Wilayah tersebut dikelilingi sebuah kawasan yang disebut “Bitter River”. Dalam pemahaman para peneliti, istilah tersebut menandai batas dunia yang dikenal bangsa Babilonia pada masa itu.
Di dalam lingkaran tersebut terdapat gambaran sungai berbentuk persegi panjang yang membentang dari utara ke selatan. Sungai itu diyakini melambangkan Sungai Eufrat.
Setelah menelaah simbol-simbol yang terdapat pada peta, para peneliti mengaitkannya dengan kisah-kisah dalam literatur keagamaan dan mitologi Mesopotamia kuno.
Salah satu bagian peta menyebut perjalanan sejauh “tujuh liga untuk melihat sesuatu setebal bejana parsiktu”.
Istilah “parsiktu” digunakan untuk menggambarkan ukuran sebuah bejana yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dari banjir besar, berdasarkan sumber tertulis Babilonia lainnya.
Petunjuk lain dalam peta diyakini menggambarkan rute menuju “Urartu”. Tempat tersebut disebut dalam puisi Mesopotamia kuno sebagai lokasi berlabuhnya kapal besar yang dibuat seorang pria untuk menyelamatkan keluarganya dari banjir.
Kisah tersebut memiliki kemiripan dengan cerita Bahtera Nuh yang dikenal dalam tradisi agama samawi.
Urartu juga dikaitkan dengan kawasan Ararat. Dalam tradisi dan interpretasi tertentu, kawasan tersebut dipercaya berkaitan dengan lokasi berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS setelah banjir besar.
Namun, temuan Imago Mundi tidak dengan sendirinya membuktikan secara arkeologis keberadaan atau lokasi Bahtera Nabi Nuh. Hubungan tersebut merupakan interpretasi terhadap simbol dan teks kuno yang terdapat dalam tablet Babilonia.
Finkel menyebut petunjuk dalam peta tersebut mengarah pada kisah yang memiliki kemiripan dengan cerita bahtera.
“Ini menunjukkan bahwa ceritanya sama, dan tentu saja satu hal mengarah ke hal lain, tetapi juga, dari sudut pandang Babilonia ini sudah pasti. Jika Anda melakukan perjalanan ini (menelusurinya) Anda akan melihat sisa-sisa kapal bersejarah ini,” kata Finkel menyimpulkan.
Kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an
Nabi Nuh AS merupakan salah satu dari 25 nabi yang wajib diimani umat Islam. Kisah dakwahnya kepada kaum yang ingkar hingga terjadinya banjir besar diabadikan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa menyebut nama lengkap Nabi Nuh AS adalah Nuh bin Lamik bin Matwasyalakh bin Khanukh (Idris) bin Yarad bin Mahlayil bin Qanin bin Anwasy bin Sits bin Adam.
Ibnu Jarir dan sejumlah ulama lainnya menyebut Nabi Nuh AS lahir 126 tahun setelah wafatnya Nabi Adam AS.
Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS kepada suatu kaum yang mengingkari ajaran tauhid. Ia kemudian menyeru kaumnya agar menyembah Allah SWT dan meninggalkan kesyirikan.
Dakwah tersebut mendapat penolakan dari para pemuka kaumnya. Mereka bahkan menilai Nabi Nuh AS berada dalam kesesatan.
Sebelum azab berupa banjir besar datang, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS membuat sebuah bahtera.
Pembuatan kapal tersebut dilakukan di daratan yang jauh dari laut. Kondisi itu membuat Nabi Nuh AS semakin dicemooh oleh kaumnya.
Kisah Nabi Nuh AS terdapat dalam sejumlah surah, antara lain Al-A’raf, Yunus, Hud, Al-Anbiya, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara, Al-‘Ankabut, Ash-Shaffat, Al-Qamar, dan Surah Nuh.
Kisah tersebut juga disebut secara singkat dalam beberapa surah lainnya, seperti An-Nisa’, Al-An’am, At-Taubah, Ibrahim, Al-Isra, Al-Ahzab, Shad, Al-Mu’min, Asy-Syura, Qaf, Adz-Dzariyat, An-Najm, Al-Hadid, dan At-Tahrim.
Salah satu kisah tersebut terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 59-64. Allah SWT berfirman:
“Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu (berada) dalam kesesatan yang nyata.” Dia (Nuh) menjawab, “Hai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah rasul dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?” (Karena) mereka mendustakannya (Nuh), Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS Al-A’raf: 59-64)
Kisah tersebut menjadi salah satu pelajaran penting dalam Al-Qur’an mengenai dakwah Nabi Nuh AS, penolakan kaumnya, serta keselamatan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. (*)







