serambimuslim.com– Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Keberadaan Islam di wilayah ini tidak terlepas dari peran para tokoh penting yang membawa ajaran ini ke dalam masyarakat lokal.
Dalam konteks sejarah, ada tiga sosok yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan, yaitu Datu Ri Bandang, Datu Ri Tiro, dan Datu Patimang.
Melalui tulisan ini, kita akan menjelajahi lebih dalam mengenai ketiga Datu tersebut dan peran mereka dalam proses islamisasi di daerah ini.
Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Selatan
Mengacu pada jurnal Universitas Pejuang Republik Indonesia Makassar yang berjudul Islamisasi di Sulawesi Selatan dalam Perspektif Sejarah, Islam pertama kali masuk ke Sulsel pada awal abad ke-17.
Proses ini dimulai dengan kedatangan para mubalig dari Minangkabau, Sumatera Barat, yang pada saat itu juga berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh.
Salah satu tokoh penting dalam kedatangan Islam adalah Abdul Kadir Khatib Tunggal, seorang ulama asal Minangkabau Tengah yang tiba di Pelabuhan Tallo pada tahun 1605.
Khatib Tunggal melakukan shalat di pantai yang menarik perhatian masyarakat setempat.
Ketika Raja Tallo mengetahui hal tersebut, ia segera pergi menemui Khatib Tunggal, dan pertemuan itu menyisakan kisah menarik di mana Raja Tallo bertemu dengan sosok yang diyakini sebagai penjelmaan Nabi Muhammad SAW. Pengalaman ini menandai awal mula pengenalan dan penerimaan Islam di kalangan masyarakat Makassar.
Proses Islamisasi di Sulawesi Selatan
Proses islamisasi di Sulawesi Selatan dapat dibagi menjadi beberapa periode. Pada periode awal, konversi keislaman terjadi di kalangan penguasa dan raja-raja yang berkuasa di daerah pesisir.
Mereka menjadi pelindung dalam pengembangan pusat-pusat penyiaran Islam di wilayah mereka.
Proses ini didukung oleh metode dakwah yang dilakukan oleh tiga Datu, yaitu Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang, yang membawa pendekatan akomodatif dan adaptif dengan budaya lokal.
Penggunaan pendekatan struktural melalui jalur birokrasi, adat istiadat, serta tradisi masyarakat setempat memberikan kemudahan bagi penyebaran Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa proses islamisasi di Sulawesi Selatan tidak hanya berlangsung secara langsung, tetapi juga melalui integrasi dengan kekuasaan lokal.
Tiga Datu Pembawa Agama Islam di Sulawesi Selatan
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan sangat erat kaitannya dengan kedatangan tiga ulama asal Minangkabau yang diutus oleh Sultan Aceh. Mereka adalah Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Patimang.
Masing-masing Datu memiliki daerah dakwah dan metode yang berbeda sesuai dengan keahlian dan latar belakang mereka. Berikut ini adalah profil masing-masing Datu:
1. Datuk Ri Bandang
Datuk Ri Bandang, yang memiliki nama asli Muhammad Arsyad al-Banjari dan bergelar Khatib Dayan, adalah ulama pertama yang memperkenalkan Islam kepada masyarakat Makassar.
Ia berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan telah menuntut ilmu di Kesultanan Aceh. Dalam misi dakwahnya, Datuk Ri Bandang menyebarkan ajaran Islam di wilayah utara Sulawesi Selatan, termasuk Gowa, Tallo, dan Maros.
Ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan, termasuk Kerajaan Gowa, yang dipimpin oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin.
Makamnya yang terletak di Gowa kini menjadi tempat ziarah dan simbol penyebaran Islam di Sulsel.
2. Datuk Ri Tiro
Datuk Ri Tiro, atau Abdul Jawad, dikenal dengan gelar Khatib Bungsu. Ia juga berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan ditugaskan oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam.
Datuk Ri Tiro tiba di Kedatuan Luwu dan melakukan dakwah di wilayah selatan Sulawesi Selatan, seperti Tiro, Bulukumba, dan Bantaeng.
Ia berhasil mengislamkan Kerajaan Tallo yang dipimpin oleh I Mallingkang Daeng Manyonri, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awwalul-Islam.
Makamnya yang terletak di Bonto Tiro, Bulukumba, kini menjadi tempat ziarah dan saksi bisu proses islamisasi di daerah tersebut.
3. Datuk Patimang
Datuk Patimang, dengan nama asli Muhammad Zainuddin atau Abdul Qadir, memiliki gelar Khatib Sambas. Ia juga berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan belajar di Kesultanan Aceh.
Datuk Patimang melakukan dakwah di wilayah timur Sulawesi Selatan, termasuk Bone, Soppeng, dan Pinrang.
Ia berhasil mengislamkan Kerajaan Bone yang dipimpin oleh La Tenritatta Arung Palakka, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Ahmad al-Salih Syamsuddin.
Makam Datuk Patimang yang terletak di Bone menjadi salah satu tempat ziarah penting bagi masyarakat setempat.









