SerambiMuslim.com – Kementerian Agama (Kemenag) merespons kemunculan sosok Ustazah Hajar, penceramah berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tengah viral di TikTok.
Kemenag menilai fenomena tersebut menunjukkan pesatnya perkembangan teknologi digital yang kini mulai merambah ruang dakwah, namun mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dalam belajar agama.
Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Kemenag, Thobib Al-Asyhar, mengatakan teknologi AI memang memudahkan masyarakat mengakses berbagai informasi keagamaan. Meski demikian, setiap materi yang disampaikan tetap harus disikapi secara kritis dan dikonfirmasi kepada ahlinya.
“AI memang memudahkan akses informasi, tetapi karena bekerja berdasarkan algoritma dan data digital, setiap informasi yang disampaikan tetap perlu disikapi secara kritis dan ditabayunkan kepada ahlinya,” ujar Thobib Al-Asyhar, Kamis, 2 Juni 2026.
Menurut Thobib, dalam tradisi Islam seorang mubaligh mengemban tugas profetik atau kenabian yang menuntut penguasaan ilmu melalui jalur pendidikan dan sanad keilmuan yang jelas. Karena itu, dakwah tidak hanya bergantung pada ketepatan data atau teks, tetapi juga pada proses pendalaman ilmu dan keteladanan moral yang tidak dimiliki oleh teknologi AI.
“AI tidak memiliki proses internalisasi ilmu maupun otoritas moral, sehingga berpotensi menghasilkan kekeliruan jika dijadikan satu-satunya rujukan,” tegasnya.
Ia menambahkan, secanggih apa pun teknologi kecerdasan buatan, keberadaannya sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai sarana pendukung dalam memperoleh informasi, bukan menggantikan peran ulama, kiai, maupun ustaz dan ustazah.
“Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru atau mubaligh,” kata Thobib.
Kemenag juga mengimbau umat Islam agar tetap belajar agama secara langsung kepada para ulama atau guru yang memiliki otoritas keilmuan dan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Belajar agama tetap memerlukan bimbingan ulama, kiai, atau ustazah yang memiliki otoritas dan sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, agar umat memperoleh pemahaman yang benar dan tidak mudah tersesat,” pungkasnya.
Fenomena ini mencuat setelah akun TikTok @nia.hajar_s ramai diperbincangkan warganet. Sosok Ustazah Hajar yang tampil dalam berbagai video dakwah awalnya dikira sebagai manusia sungguhan. Belakangan diketahui bahwa karakter tersebut merupakan hasil rekayasa berbasis teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Popularitas akun tersebut terus meningkat. Hingga kini, akun @nia.hajar_s telah mengumpulkan sekitar 1 juta pengikut dan 12,1 juta tanda suka (likes), menandakan tingginya minat masyarakat terhadap konten dakwah berbasis AI di media sosial. (*)







