SerambiMuslim.com – Mengingat Allah SWT bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan kebutuhan ruhani yang menentukan hidup atau matinya hati seorang Muslim.
Dalam ajaran Islam, dzikir menjadi fondasi ketenangan jiwa sekaligus penguat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari, Nabi Muhammad SAW mengibaratkan orang yang berdzikir seperti orang hidup, sementara yang lalai dari mengingat Allah seperti orang mati. Riwayat ini tercantum dalam hadis yang dibukukan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Perumpamaan tersebut menegaskan bahwa dzikir bukan amalan ringan tanpa makna. Ia menjadi indikator kehidupan spiritual seseorang. Secara fisik manusia mungkin bernapas dan beraktivitas, namun tanpa dzikir, hatinya dinilai tidak hidup.
Dzikir dan Kehidupan Spiritual
Dzikir secara sederhana berarti mengingat dan menyebut nama Allah SWT, baik melalui tasbih, tahmid, tahlil, maupun doa-doa lainnya. Amalan ini dilakukan berulang-ulang sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan atas kebesaran-Nya.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa kehidupan tanpa dzikir adalah kehidupan yang merugi. Sebaliknya, orang yang senantiasa mengingat Allah memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya.
Ulama hadis asal India, Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitab Fadhail Dzikr menjelaskan bahwa makna “hidup” dan “mati” dalam hadis tersebut merujuk pada kondisi hati. Hati yang dipenuhi dzikir akan lembut dan bercahaya, sedangkan hati yang kosong darinya menjadi keras dan kering.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Hakim al-Tirmidzi. Ia menyebut dzikir sebagai pelembut hati. Tanpa dzikir, hawa nafsu dan syahwat akan menguasai diri, hingga anggota tubuh sulit digerakkan untuk taat kepada Allah SWT.
Kehidupan Setelah Kematian
Kalangan ulama tasawuf memaknai hadis tersebut lebih dalam. Menurut mereka, ahli dzikir sejatinya tidak benar-benar mati. Kematian hanyalah perpindahan dari satu alam menuju alam lain.
Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Alquran Surah Ali ‘Imran ayat 169 yang menyatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.
Ayat tersebut memperkuat keyakinan bahwa kehidupan spiritual tidak terhenti oleh kematian fisik. Orang yang dekat dengan Allah melalui dzikir memiliki kehidupan khusus di sisi-Nya.
Lima Hadis tentang Keutamaan Dzikir
Berikut beberapa hadis yang menegaskan keutamaan berdzikir:
1. Dzikir sebagai amalan terbaik
Sahabat Abu Ad-Darda meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menyebut dzikir sebagai amal paling utama, paling suci di sisi Allah, dan lebih baik daripada menginfakkan emas serta perak. (HR Imam Tirmidzi)
2. Allah bersama hamba yang berdzikir
Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah berfirman bahwa Dia bersama hamba-Nya ketika hamba tersebut mengingat-Nya. Jika hamba mendekat, Allah mendekat lebih dari itu. (HR Bukhari dan Muslim)
3. Pembeda antara hidup dan mati
Hadis dari Abu Musa menegaskan bahwa orang yang mengingat Allah dan yang tidak mengingat-Nya seperti perbedaan orang hidup dan mati. (HR Bukhari)
4. Amalan sederhana namun konsisten
Sahabat Abdullah bin Busr pernah meminta amalan yang mudah diamalkan. Rasulullah SAW menjawab agar lisannya senantiasa basah dengan dzikir. (HR Tirmidzi)
5. Keutamaan dzikir di waktu pagi
Dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi SAW menyampaikan bahwa siapa yang membaca “Subhanallah wa bihamdih” sebanyak 100 kali di pagi hari, dosa-dosanya diampuni meski sebanyak buih di lautan. (HR Bukhari dan Muslim)
Dzikir bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan kebutuhan jiwa. Ia menghidupkan hati, menenangkan pikiran, serta menjaga seorang Muslim tetap terhubung dengan Allah SWT di tengah kesibukan dunia. Dalam setiap keadaan, dzikir menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup seorang hamba. ***






