Umat Islam di Akhir Zaman, Lebih Cinta Dunia dan Takut Mati

Rasulullah SAW menggambarkan umat Islam di akhir zaman seperti buih di genangan air. Penyebabnya adalah penyakit al-wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Umat Islam di akhir zaman pernah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai kelompok yang sangat banyak jumlahnya, namun kehilangan kekuatan dan wibawa.

Kondisi tersebut diibaratkan seperti buih di permukaan air, terlihat banyak, tetapi mudah terombang-ambing dan tidak memiliki daya.

Gambaran ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi sasaran bangsa-bangsa lain yang saling berebut untuk melemahkannya.

Dari sahabat Tsauban RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam) seperti orang-orang yang memperebutkan makanan di dalam mangkuk.”

Seorang sahabat kemudian bertanya, “Apakah pada waktu itu jumlah kami sedikit?” Rasulullah SAW menjawab: “Bahkan kalian pada saat itu sangat banyak, tetapi kalian seperti buih di genangan air. Allah akan mencabut rasa takut musuh terhadap kalian dan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn.”

Sahabat kembali bertanya, “Apakah al-wahn itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini menjadi peringatan penting bagi umat Islam agar tidak terjebak pada kelemahan moral dan spiritual. Ketika kecintaan terhadap dunia menjadi berlebihan dan rasa takut terhadap kematian menguasai hati, umat akan kehilangan kekuatan dan keberanian dalam menegakkan kebenaran.

Pesan yang terkandung dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa kemunduran umat bukan disebabkan oleh sedikitnya jumlah, melainkan oleh kondisi hati yang jauh dari nilai-nilai keimanan.

Karena itu, kebangkitan umat Islam hanya dapat dicapai dengan memperkuat iman, memperbaiki akhlak, serta menata kembali orientasi hidup agar berfokus pada mencari ridha Allah SWT, bukan sekadar mengejar kenikmatan dunia.

Selain itu, hadits ini juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan solidaritas di antara sesama umat Islam.

Dengan persatuan yang kuat serta keimanan yang kokoh, umat tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menghadapi kezaliman dan menegakkan kebaikan sesuai ajaran Islam. ***