Kemenag Gelar Milfest 2026, Jadi Ajang Pemberdayaan UMKM

Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar menghadiri acara penutupan Milfest 2026 yang digelar di Bogor, Jawa Barat, Minggu, 2 Agustus 2026. (Foto: Dok Kemenag)

SerambiMuslim.com – Muharram Islamic Literacy Festival (Milfest) 2026 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) tak hanya menjadi ruang penguatan literasi keislaman. Festival ini juga dimanfaatkan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi dengan melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk penyandang disabilitas.

Milfest 2026 berlangsung selama empat hari, mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Ciawi, Bogor. Selain menghadirkan diskusi dan kajian keislaman, festival tersebut dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui promosi produk UMKM.

Penutupan Milfest dihadiri Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar. Ia mengapresiasi penyelenggaraan festival yang dinilai berhasil memadukan penguatan budaya literasi dengan pemberdayaan ekonomi umat.

“Alhamdulillah, pada hari ini kita menutup rangkaian Milfest dengan penuh rasa syukur. Festival ini telah menjadi ruang berdialog dan menginspirasi melalui talkshow yang memperkaya wawasan, pameran buku, serta fasilitasi puluhan UMKM yang menampilkan beragam produk,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Kementerian Agama menyediakan 40 stan bagi pelaku UMKM. Produk yang dipamerkan beragam, mulai dari kuliner khas daerah seperti empal gentong, busana muslim, hingga berbagai wastra Nusantara.

Milfest 2026 juga melibatkan 12 pelaku UMKM dari kalangan penyandang disabilitas. Mereka menampilkan produk-produk kreatif sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang inklusif.

“Kehadiran UMKM, termasuk dari kaum disabilitas, membuktikan bahwa ekonomi kreatif dapat tumbuh bersama budaya literasi. Ketika ilmu melahirkan inovasi, maka inovasi akan melahirkan kesejahteraan. Ke depan, kita berharap ruang bagi pengembangan produk lokal seperti batik dan wastra nusantara bisa terus diperluas,” tambahnya.

Menurut Helmi, semangat Muharram yang menjadi latar penyelenggaraan Milfest dapat dimaknai sebagai momentum hijrah menuju masyarakat yang lebih gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, sekaligus mampu mengembangkan potensi ekonomi secara berkelanjutan.

“Islam dibangun di atas fondasi ilmu dengan perintah pertama Iqra, bacalah. Membaca bukan hanya membuka lembaran buku, tetapi juga membaca peluang, membaca perubahan zaman, dan membaca kebutuhan masyarakat,” tuturnya di hadapan jajaran Ditjen Bimas Islam, termasuk Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Arsyad Hidayat.

Helmi juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali budaya membaca, terutama di lingkungan keluarga. Menurutnya, kemampuan literasi menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menyaring informasi di tengah derasnya arus digital.

“Membaca buku secara langsung penting dihidupkan kembali. Kita juga harus membaca suasana dan keadaan agar bijak dalam menerima informasi. Literasi yang baik akan menghindarkan kita dari salah tafsir yang berujung pada hal negatif,” pesannya.

Sebagai tindak lanjut, Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama menyatakan akan terus mendukung program gerakan literasi, pemberdayaan keluarga, penguatan UMKM, serta pengembangan ekonomi kreatif yang berlandaskan nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

“Mari kita jadikan langkah ini sebagai gerakan bersama membangun masyarakat yang cerdas, produktif, mandiri, dan mampu menghadirkan harmoni,” tutupnya. (*)