SerambiMuslim.com – Salat Subuh merupakan salat fardhu yang wajib ditunaikan tepat pada waktunya. Namun, dalam kondisi tertentu, seperti tertidur, lupa, atau mengalami uzur yang tidak disengaja, seseorang bisa melewatkan salat tersebut. Dalam keadaan seperti ini, kewajiban salat tidak gugur, melainkan harus diganti dengan salat qadha.
Lantas, bagaimana hukum mengqadha salat Subuh, kapan waktu yang tepat melakukannya, dan bagaimana tata caranya? Berikut penjelasannya.
Hukum Mengqadha Salat Subuh
Dalam buku “Seri Fiqih Kehidupan”, Ahmad Sarwat menjelaskan bahwa kewajiban salat tidak hilang hanya karena seseorang tidak dapat mengerjakannya pada waktu yang telah ditentukan. Salat tetap menjadi tanggungan yang wajib ditunaikan melalui qadha.
Allah SWT juga memberikan peringatan kepada orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 42-43:
مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ
Latin: Mā salakakum fī saqar(a). Qālū lam naku minal-muṣallīn(a).
Artinya: “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat.”
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari manusia pada hari kiamat adalah salat.” (HR Abu Dawud)
Sementara itu, dalam “Fiqhul Islam wa Adillatuhu”, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa qadha adalah mengerjakan kewajiban setelah waktunya berlalu. Mengqadha salat fardhu hukumnya wajib berdasarkan hadis sahih dari Anas bin Malik RA.
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang tidur dan tidak salat atau lupa mengerjakannya, hendaklah ia salat ketika mengingatnya. Tidak ada kafarat baginya selain itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan penjelasan tersebut, salat yang terlewat karena tidur atau lupa tetap wajib diqadha. Bahkan, salat yang sengaja ditinggalkan tanpa alasan syar’i lebih utama lagi untuk segera diganti.
Cara Qadha Salat Subuh
Tata cara qadha salat Subuh sama seperti salat Subuh pada umumnya, yakni dilakukan sebanyak dua rakaat. Perbedaannya hanya terletak pada niat qadha sebelum salat.
Berikut langkah-langkahnya:
- Berwudu terlebih dahulu.
- Menghadap kiblat.
- Membaca niat qadha salat Subuh.
- Melaksanakan salat Subuh dua rakaat sesuai rukun dan syarat salat.
- Mengakhiri salat dengan salam.
Meskipun dikerjakan di luar waktu Subuh, salat tetap harus dilakukan dengan khusyuk serta memenuhi seluruh rukun dan syarat salat.
Bacaan Niat Qadha Salat Subuh
Berikut bacaan niat qadha salat Subuh dalam bahasa Arab, latin, dan artinya.
أُصَلِّي فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Usholli fardhos subhi rok’ataini mustaqbilal qiblati qadha’an lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya berniat mengerjakan salat fardhu Subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat serta mengqadha karena Allah Ta’ala.”
Kapan Waktu Mengqadha Salat Subuh?
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Yahya Zainul Maarif atau Buya Yahya, menjelaskan bahwa qadha salat Subuh dapat dilakukan kapan saja setelah seseorang menyadari atau mengingat bahwa salatnya terlewat.
“Qadhanya kapan saja, lebih cepat lebih bagus. Tidak harus nunggu Subuh besok. Qadhanya bisa sebelum Zuhur, setelah Zuhur, setelah Asar, bebas. Yang penting, lebih cepat lebih bagus,” ujar Buya Yahya dalam cuplikan video di kanal YouTube Al Bahjah TV.
Artinya, seseorang tidak perlu menunggu hingga waktu Subuh pada hari berikutnya. Begitu menyadari salat Subuh belum dikerjakan, sebaiknya segera mengqadhanya agar kewajiban tersebut segera tertunaikan. (*)







